Cerita Tersembunyi Sebelum Aku Ada

waktu kecil aku sering bertanya pada ayah dan ibuku tentang hal-hal yang menurutku bagus untuk ku kenang.

misalnya tentang ayah waktu mudanya kenapa merantau tapi gak pulang-pulang, atau tentang ibu yang terpaksa mengubur mimpi menjadi guru. ayah dan ibu akan senang menceritakannya ke aku. aku menikmati cerita mereka seperti mendengar dongeng yang indah.

semua yang aku tanyakan akan terjawab dengan mulus oleh ayah dan ibu termasuk cerita dua paman dan dua bibiku, setelah cerita mereka selesai aku akan bilang ooooh sambil mengangguk-angguk.

Aku merasa mengenal ayah dan ibu dari usia mudanya. dan aku pun tahu kenapa ayah dan ibu bisa menikah dan menghasilkan anak seperti aku yang imut ini. tutorial cara aku lahirkupun aku tahu, berkat sering  bertanya tentang masa lalu.

mak etek icha [bibi icha]. itu seperti apa sih wajahnya, kataku bertanya ke ibuku.

ooh icha, mak lupa ah. ngak teralu ingat lagi, jawab beliau seolah tidak tertarik menceritakannya ke aku, lalu beliau pura-pura lupa.

emang mak. belum selesai ucapanku langsung di potong uniku [kakak perempuanku]. lu nanya aneh-aneh aja, gak usah nanya kayak gitu-gitu lu, ngapain emang. kata kakaku yang terlihat kesal.

diih aneh, kenapa harus marah-marah nanya seperti itu doang, wajarlah aku pengen tahu, kan tek icha bibi aku. bibi kamu juga dan bibi kita semua. dasar tukang ngomel.

***

tentang tek icha memang sulit terjawabnya, rasanya aku lagi butuh uang satu juta tapi uangku kurang sepuluh ribu, bagaimanapun juga sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu itu, tidak akan menjadi satu juta jika tidak di perjuangkan mencari sepuluh ribu lagi.

bukan karena aku matre atau menilai sesuatu harus dengan uang. mungkin cuma itu perumpaan yang cocok dengan perasaanku saat ini.

satu juta cerita telah aku simpan di memori, namun sepuluh ribu cerita sangat susah mendapatkannya, mungkin itulah manusia tidak akan ada yang sempurna, apalagi ini tentang nafsu dunia atas angan-angan belaka. atas rindu kepada seseorang terdekat tapi belum pernah aku berjumpa.

Mungkin karena kebaikan dari bibiku yang lain ada dua lagi adik dari ibuku, mereka dengan senang hati menyayangiku, ini sangat membahagiakan karena mendapat banyak kasih sayang. sebagai manusia dengan kelemahannya malah itu yang membuatku merasa ada yang kurang. yaitunya kasih sayang tek icha, tapi aku tidak merasakannya bahkan untuk mendengar ceritanya saja aku tidak pernah.

manusia memang tidak ada puasnya sudah dapat kasih sayang kedua orang tua ditambah lagi dengan kasih sayang bibi dan paman. aku masih saja merasa kurang, ya Allah ampuni hamba.

***

Aku sebenarnya bangga, katanya wajahku mirip dengan kakeku, termasuk bahasa tubuh seperti hobi nongkrong [kalau duduk sukanya jongkok dan tangan ke lutut].

Aku juga bangga karena Kakekku orang terpandang, beliau kaya-raya dan banyak sekali mewariskan sumber kebahagiaan

berikut ini rinciannya

  1. sebuah rumah dindingnya dari anyaman bambu dan di halamannya ada sebatang pohon durian.
  2. satu buah drum gilingan kopi dengan tangkai bengkok yang sekarang bergelantungan di pohon durian itu buat ngusir tupai.
  3. sepeda ontel yang di parkirkan di dinding anyaman bambu sekarang sepedanya tidak bisa di pakai lagi, sebab sudah karatan
  4. dan beberapa buku yang bisa aku baca.

dengan memanfaatkan harta kekayaan itulah ibuku dua paman dan dua bibiku dapat mengenyam pendidikan terbaik saat itu. keberhasilan ini karena prinsip kakekku yang mementingkan pendidikan.

itu baru 50% dari skill kakekku, yang sebagiannya adalah, didikan dari beliau sendiri yang berhasil membuat kelima anaknya menjadi penuh kasih sayang, penuh perhatian satu sama lain. hingga diwariskan ke kami cucu-cucunya, yang bisa menikmati kebahagiaan berkat kekayaan ilmu beliau.

Dan yang paling penting adalah Kakekku kaya raya akan ilmu agama, sholeh dan punya jiwa sosial yang bagus.

dan berikut ini daftar anak kakekku sesuai urutan

  1. emakku [ibuku] anak pertama
  2. mak inggihku [pamanku badannya tinggi] anak kedua
  3. anteku [bibi menengah] anak ketiga
  4. etekku [bibi kecil] anak keempat
  5. acikku [paman kecil] anak bungsu

dan kesemuanya dekat denganku, meraka peduli dengan pendidikanku dan juga masa depanku, tidak hanya aku ada empat lagi kakaku yang mereka perhatikan dengan baik, singkatnya keluarga besarku saling bahu-membahu satu sama lain.

lalu dimana posisi tek icha yang seharusnya masuk kedalam daftar nama diatas. aku juga masih bingung sebenarnya. 

yang pasti beliau sudah meninggal dunia sebelum aku ada di dunia. meski bagiku tek icha lebih dari sekedar nama panggilan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *