Cinta Itu Buta | Cerpen Perjuangan

Diposting pada

Raka dia sahabatku dia sering bercerita tentang keinginan-keinginannya di masa depan. salah satu keinginannya adalah menikah.

dan aku akan ceritakan kisah raka kepadamu, bukan maksud bergunjing ya gaiis, tapi tentang pelajaran buat kita bagai mana perjuangan raka menggapai keinginannya itu.

berikut ini kisahnya

***

Sesampainya di Cafe raka melihat ami sedang main Hanphone, dia duduk di bangku paling pojok, Posisi ami tidak jauh dari figura sebuah Lukisan kepala orang yang sedang menganga, lukisan itu terpampang cukup besar di tembok Cafe.

“Sayang tumben kamu ngajak aku kesini duluan”. Kata raka

“oh iya kamu udah datang”, kata Ami sambil buru-buru nyimpan hp nya.

“iya dari tadi aku berdiri disini, kamu serius banget main hpnya, hayoo lagi cahttan sama siapa”, canda raka.

“ngak ini dari caca teman SMA ku”. jawab ami lalu tersenyum tipis tapi sedikit kecut.

Raka duduk di bangku tepat di depan Ami, reaksi Ami tidak seperti biasanya, dia Terlihat sibuk dengan sesuatu yang ada dalam tasnya, mungkin Hanphone nya tadi, tapi Raka tidak menanyakan perihal sikap Ami itu.

Raka duduk dengan menyenderkan tubuhnya ke sandaran bangku, lalu melipat kedua tangannya ke dada, sambil menikmati pemandangan yang sangat membosankan tepat di hadapannya, ya itu gelagat Ami yang tidak perduli dengan Raka yang tadi dia undang, dan setelah Raka datang dia malah sibuk dengan Hal lain.

terdengar suara resleting tas ami, pertanda dia sudah selesai dengan aktifitas yang super rahasia itu, sedangkan raka tersenyum tipis dan melihat raut wajah ami yang belum fokus dengan suasana Cafe.

“Hey kenapa sih..?” ujar raka.

“Iya sori, begini Raka aku ngundang kamu ke sini sebenarnya ada hal serius yang ingin aku sampaikan.

“aku harap kamu mengerti semua ini, aku mau setelah ini tidak ada lagi beban di antara kita berdua” kata ami menjelaskan

“Maksud kamu.?” tanya raka

“Kita Putus Aja ya..!”

Raka terperangah mendengar pernyataan Ami yang tiba-tiba mengucapkan kata putus dengan cara yang seperti itu.

Sepulang dari Cafe itu, raka datang ke kontrakanku, mukanya kusut, kameja lengan panjang warna hitam tidak lagi menempel di tubuhnya, tapi dia tenteng seperti membawa kantong kresek bungkus sayur.

aku di beranda kontrakan sedang  gitaran sendiri.

“Hey Raka kenapa Lo” tanya ku

“tuh cewe Bangs#t” sergah raka

aku tidak bertanya lagi raka langsung masuk kedalam kontrakan lalu terdengar air keran mengucur, sepertinya dia cuci muka mungkin juga dia mandi didalam sana.

Aku tidak bertanya karena pasti dia sendiri yang akan menceritannya padaku, dan dugaanku benar karna malam itu jadi agak membosankan bagiku karena harus mendengar curhatan raka yang panjang lebar, tentang kejadian di cafe.

***

Aku fikir kejadian di Cafe itu ada kaitannya dengan beberapa hari sebelumnya.

Waktu itu Ami datang ke kontrakanku dan bertanya perihal raka, kebetulan waktu itu raka sedang tidak ada di kontrakanku, dan tidak ada juga dirumahnya.

Ami bukannya sopan malah bertranya begini.

“hasbi.! [nama ku]. kamu tau raka ada dimana gak..?” tanya Ami

“enggak, kenapa” tanyaku balik.

“engak kenapa-napa, cuma minta tolong aja kamu gak usah pengaruhin raka deh”

Apa apan si k@mpr3t ini malah datang ke aku lalu marah marah bukannya sopan kerumah orang. malah nuduh yang aneh aneh.

Aku bilang aja ke dia. “lu ngapain sih pulang sono, ganggu ketenangan orang aja lu”

“hasbi.! lu tau gak raka sudah berapa hari gak mau nemuin gua ngak pernah ngajak jalan di hunbunginya juga susah” sergah ami ke aku.

Aku langsung masuk kedalam dan tidak lagi mendengar ocehan si Ami, ku mainkan laptop dan melanjutkan perkerjaanku.

sedangkan ami duduk di tembopk rendah pembatas kamar kontrakan tepat di depan pintu. dan Ami masih aja bicara. aku sih gak perduli. entah dia ngomong apa.

dan ami terlihat seperti tante-tante lagi nagih hutang, dan perasaan Aku gak enak banget, samalah rasanya seperti yang punya hutang 1 miliar jatuh tempo di hari ini.

dan depkolektor datang ke rumahku..! itu dia yang lagi duduk di depan pintu. sebenarnya aku tidak ada masalah apa apa sama hubungan mereka, tapi malah aku yang di cecer. 

Karena kejadian itulah akhirnya aku bertanya ke Raka, kenapa Ami sampai datang ke kontrakanku dan marah-marah kayak depkolektor.

dan raka menceritakan ke Aku bahwa Ami memang sedikit posesif kalo raka baru gajihan. dia ingin di ajak nonton atau jalan ke mana gitu, lalu selfi-selfi buat di pamerin di Instagram. dan raka pasti menuruti kemauan Ami itu. kecuali saat ami mendatangi kontrakanku. waktu itu Raka tidak mengacuhkan Permintaan Ami yang ingin Jalan-Jalan Ke bogor dengan geng cabe cabean Ami.

Menurut Raka sendiri kejadian itulah yang menyebabkan Ami murka lalu memutuskan hubungan mereka di Cafe beberapa hari setelahnya.

***

Oh iya sedikit lupa, raka adalah anak asli tangerang dan aku perantau dari padang, aku ngontrak tidak jauh dari rumah orang tua raka, sedangan rumah Ami masih di daerah sini juga namun rumahnya agak jauh.

raka bekerja di sebuah showroom mobil seken, dia orang kepercayaan bosnya ngurus showroom itu.

dan ami dia karyawan salah satu pabrik di tangerang juga.

***

Aku sebenarnya beruntung punya sahabat seperti Raka, karena dia bertolak belakang dengan aku dalam Hal cinta, itulah yang membuat aku belajar dari dia.

Jika raka putus cinta maka dia jadi seperti keranjingan untuk bekerja, dia akan mengabaikan rasa sakit hatinya dan mengalihkan ke aktifitas.

sedangan aku jika putus cinta maka akan makan 3 dalam dalam sebulan, tapi masih hidup namun malas bekerja. maunya melamun dan baper berkepanjangan.

dan satu ungkapan yang paling aku ingat dari raka adalah.

“Brew berfikirlah menggunakan kepala, jika terlalu banyak menggunakan hati maka cinta bisa membusukkan jiwamu secara berlahan hahaaha”

ungakapan itu adalah bulian raka dulu waktu aku putus cinta, dan aku kesal saat itu, tapi sekarang kalimat itu sangat bermanfaat jika aku lagi kecewa oleh Cinta.

Prinsip raka memang tidak berubah, saat ini dia seharusnya menikmati masa masa baper di tinggal Ami, cewe yang sudah meluluh lantakkan hatinya Juga penghasilannya.

Tapi Raka malah lebih serius mengurus Showroom mobil milik bosnya, jika dulu dia sering telat, dan suka mengabaikan ke bawelan Costumer, sekarang dia malah bersemangat dan selalu mencari peluang bagaimana cara Costumer supaya nyaman menghadapi pelayanan dia[raka].

Saat masih bersama Ami raka hanya Berhasil menjual satu mobil, kadang tidak terjual sama sekali.

belum sampai satu bulan dia putus dengan Ami dia berhasil menjual Tiga Mobil, tentu sudah terbayang berapa bonus yang akan meluncur ke kantong Raka bulan ini.

dan bonus itu tidak lagi ada yang menagih untuk jalan, beli ini beli itu, karena dia sudah lepas dari bayang-bayang depkolektor KW yaitunya Ami.

menurut cerita Raka, sebenarnya Ami tidak seburuk yang aku bayangkan, Ami itu Polos Lugu dan Manja. Entahlah itu sih cerita Raka.

raka pernah cerita gini.!

“Bi [panggilanku], Gua sebenarnya kasihan sama Ami, dia harus di tinggal ayah dari kecil lalu dia dibesarkan oleh ibunya seorang diri.

“dengan keadaan yang sederhana tentu dia tidak bisa gaya-gayaan seperti cewe-cewe yang lain. dan Ami menerima keadaan itu saat kecil,

” sekarang Dia sudah beranjak Dewasa dan ingin seperti cewe-cewe yang lain dengan kesenangan kebahagiaan punya ini punya itu, dan keinginannya itu di support oleh teman satu geng nya yang sebagiannya orang kaya, itulah yang membuat ami berubah, dan jadi matre kaya gitu”

aku mendengar cerita raka sembari ngutak atik websiteku di laptop. tapi aku tidak menanggapi cerita raka, lalu dia ke kamar madi, dan terdengar keran mengucur, “mungkin raka sedang cuci muka atau ngocay entahlah..?, Aku tidak berharap dia akan berurai airmata di kamar mandi sana”

***

Raka sekarang sudah punya Tabungan lebih tapi aku jadi bingung dengan apa sebenarnya yang dia pikir.

Tadi sebelum menulis ini aku main kerumahnya, dan dia terlihat sibuk membuka buka aplop Coklat.

“Oy mau ngelamar lagi lu coy. bukannya penjualan showroom lagi rame” tanya ku padanya.

“Iya gua mau ngelamar” katanya lagi

buset ni anak kok aneh mungkin dia mencari kerja sampingan supaya penghasilannya lebih besar lagi. pikirku, tapi aku tidak bertanya lagi. dan dia melanjutkan perkataannya.

“bukan ngelamar kerjaan, tapi ngelamar cewe

“Gua mau ngelamar Ami”.Tandas Raka.

lalu tersenyum sambil menoleh kearahku. dan tangganya sedang memegang Kartu Keluarga yang dia rogoh dari amplop coklat. Katanya buat di serahin ke KUA.

Cinta Itu Buta oleh Hasbiallah bin Waizulkarni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *