Cinta Yang Tak Terduga

Cerpen cinta tak terduga ini saya tulis apoa adanya saj. tidak ada tambahan ini itu, dan sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya. dan saya sebenarnya malu jika membacanya kembali. tapi tidak apalah. aku hanya anggap cerpen ini sebuah karya, yang pernah aku tulis.

lu mau cewe yang mana bro, tinggal pilih aja tar gua amanin. ucap hamid, hamid dia temen ku. 

aku sih tidak begitu perduli dengan urusan cewe, maksudku disaat ini, karena banyak urusan yang lebih urgent dari pada cewe. mungkin lain kali aku bisa tertarik untuk ngurus masalah cewe per cewean. Karena pertanyaan sihamid butuh jawaban maka aku mencoba mengingat ingat cewe yang kemaren sempat menjadi pusat perhatian ku. cewe itu ada tahi lalat dihidungnya. hanya itu yang aku ingat tentang tu cewe.

aku bilang saja ke sihamid , cewe yang ada tahi lalat di hidungnya cantik tuh..! 

wah dia mah gebetan gua bro, jangan yang itumah. kata si hamid sedikit terkaget.

aku sedikit tersenyum. sambil bilang yaaah elaah, lu kan tadi nanya coy..! 

oh ya lupa, namaku hasbi. aku seorang pelupa yang handal, banyak menghabiskan waktu di depan laptop, dan sisa waktuku aku manfaatkan untuk nongkrong sambil main gitar. dan yang pasti waktuku banyak tersita oleh pekerjaanku yang jujur, aku sendiri tidak menyukai pekerjaan itu..

aku juga punya beberapa lagu ciptaan sendiri, aku juga punya banyak temen, banyak banget. karena aku suka berteman dengan siapapun, dengan kamu juga..!!

Tentang pertanyaan yang di ajukan sihamid tadi, itu kejadian dua tahun yang lalu. dimana aku baru saja bekerja di tempat hamid bekerja, maksudku aku diajak oleh hamid bekerja di tempat ia bekerja dan aku di terima disitu untuk bekerja juga.. entahlah mudah-mudahan kamu paham…!

sebenarnya aku mulai dari pagi satu ke pagi yang berikutnya semakin memperhatikan si cewe bertailalat dihidung itu, meski dia terlihat nempel dengan si hamid tapi aku merasa berhak juga untuk menyukainya. meskipun aku tidak mau terlalu jauh menyukainya, karena resikonya adalah. “aku gampang di bego bego in. jika sudah terlanjur cinta sama cewe”.

oh ya aku memang belum tau namanya [cewe itu]. aku hanya memperhatikan dia dari mesinku. sambil bekerja aku kadang menoleh ke dia. 

Oh ya mesin..!

Mesin itu namanya embos. cara kerjanya agak-agak mirip dengan nyetir mobil. kita bekerja sambil duduk, lalu kaki kanan menginjak pedal press, sedangkan kaki kiri menginjak pedal setrum. sedangkan kedua tangan bertugas ngepasin bahan dengan mould. sedangkan yang kita kerjakan adalah memperbagus logo sepatu [agar merek logonya timbul]
dan mesin itu berderet dan berhadap hadapan , maksudku 1 mesin terdapat dua kendali yang berhadap hadapan, dan aku sendiri dapat jatah mesin, di bersebelahan dengan posisi berhadapan dengan si cewe bertahi lalat itu. jadi aku akan lebih leluasa memandang paras jelitanya.

sehingga aku bisa melihat ada sutra dalam kemasan yang tersembunyi dibalik riangnya dia, aku tidak menebak nebak, sebab dia itu hanya polos karena usianya memang masih terlalu muda untuk menghadapi ke lihaian si hamid, dan si hamid beruntung karena lebih dulu mengenalnya. [cewe bertahilalat].
Sihamid yang tidak mau jauh jauh dari cewe manis yang baru lulusan SMA itu mengambil mesin yang posisinya tepat di depannya, artinya mereka berdua bekerja di satu mesin yang sama. dan mereka berdua kelihatannya sangat nempel, sihamid lebih sering duduk di sebelah cewe dari pada bekerja di mesinnya sendiri.. 

oh ya dia namanya Rafanda tadinya aku dengar si hamid manggilnya dengan sebutan Afa, dan stelah ku tanya pada temen yang satu mesin denganku. akhirnya aku jadi tahu bahwa namanya Rafanda, tapi jujur aku masih lupa kadang namanya siapa. karena nama itu masih terdengar unik di kupingku. dan butuh berapa lama baru nama itu nempel di otakku. hingga suatu saat nama itu nempel di hatiku… 

Aku belum cemburu pada mereka berdua, karena saat itu aku memang tidak begitu perduli ngurusin masalah cinta, sedikit cerita bahwa aku bekerja disitu untuk mencari ongkos pulang ke padang [kampung halamanku]. dan aku hanya ingin bekerja satu bulan saja disitu..

Hanya saja niatku tidak berjalan mulus karena di bulan pertama kerja gajiku tidak cukup untuk ongkos pulang, di bulan berikutnya aku punya uang lebih tapi akunya yang tidak ingin pulang..

***

dan pada setiap pagi yang meminta malam untuk pulang, setiap senja yang menyuruh mentari untuk sembunyi. memaksa gulungan-gulungan awan untuk datang lalu pergi lagi. dan mereka semua menyaksikan aku yang menjadi suka pada tempat yang di jaga oleh sapam gendut itu.

aku tinggal di mes yang di sediakan perusahaan, aku sendiri berpendapat bahwa mes itu bukan lah mes. hanya kebetulan ada ruang kosong di lingkungan perusahaan itu dan kita di perbolehkan untuk mengisinya. 

mes itu ada di lantai dua. jika di lantai pertama ada kantin. maka mes yang disediakan perusahaan ada di lantai dua. nah dari sisi kiri beranda mes kita bisa melihat jalan raya yang di seberangnya ada warung. jika kita melihat ke sisi kedepan maka kita bisa melihat deretan rumah. dan salah satu rumah itu adalah rumahnya si rafanda.

ya… dia [rafanda] kerja dekat dengan rumahnya, mungkin untuk sementara saja dia bekerja di pabrik ini. mumpung baru lulus SMA, mungkin dia ingin melanjutkan kuliah atau mencari kerja di tempat yang lebih baik lagi nantinya.

Mas mas..! ini gimana ya ngak mau ngepas, ujar rafanda sedikit kebingungan. dia mengangkat bahan yang dia kerjain lalu memperlihatkannya padaku.

Aku berdiri dan samperin rafanda, aku lihat bahan yang ia kerjakan itu ternyata memang mencong kemana-mana. ooh ya sini aku coba. kataku sambil rafanda berdiri dan aku duduk di bangkunya, dan mencoba mengerjakan bahan yang tadinya dia gak bisa.

sedangkan dia sendiri celengak celinguk seperti memperhatikan tapi tidak terlalu serius memperhatikan bahan yang tadinya dia rusak yang aku perbaiki ini.

oh ya. si rafanda baru bekerja beberapa bulan disitu setelah dia lulus SMA, sedangkan aku sudah pengalaman ngembos dari beberapa tahun yang lalu di pabrik lain, jadi meski aku baru bekerja disitu, tapi aku sudah biasa ngadapain masalah seperti yang dihadapi rafanda.

ini nda udah ucapku pelan. lalu berdiri meninggalkan mesinnya.
mas aku gak bisa, susah. ucap rafanda yang masih berdiri lalu mengacungkan bahannya padaku.

aku kembali ke mesinnya, lalu aku membeberkan dengan panjang lebar cara mengepaskan bahan itu dengan mould nya. 
jadi kita mengerjakan banyak model logo. jika model yang satu sudah habis di kerjakan, maka kita di suruh mengganti dengan model yang lain, nah karena si rafanda baru nyobain model logo yang ini. maka dia bingung ngerjainnya.
***
Sekarang aku merasa nyaman bekerja disini, yang tadinya aku bekerja tapi pikiran entah kemana. sekarang aku malah fokus dan suka melirik kearah cewe seksi dengan tinggi badan yang hampir sama dengan ku, mungkin aku lebih tinggi hanya beberapa senti saja. cewe yang aku lirik itu tidak terlalu gemuk dan juga tidak kurus, pas lah poko na mah. ya.. siapa lagi kalau bukan rafanda.

kamu tau anissa sabian. tipe tipe rafanda juga seperti itu. cantik..! tapi bagiku lebih cantikan rafanda. 

eh iya..! si hamid itu orangnya getol atau yang kayak kayak gitulah, dia gak bisa diam duduk di satu tempat. dia mondar mandir kesana sini, entah apalah yang ia kerjakan kita gak tahu. nah pada saat sihamit mondar mandir itulah aku bisa lebih dekat lagi dengan si rafanda. 

tempat ini memang perusahaan non profesional, jadi kerja ya kerja aja, kalo gaji ya terima aja seyang gua kasih [mungkin begitu pikir HRD prusahaan itu]. makanya kita bebas bebas aja mau ngapain, yang penting gaji nya ada tiap bulan. meski bagiku sendiri hanya cukup untuk bayar hutang makan di warung.

sisanya bayar hutang rokok, pulsa dan sisanya lagi gocap ditangan. tadi aku bilang punya uang lebih. ya.. itu penghasilan sampinganku sebagai bloger. 

***

Hari-hari yang ku lalui terasa kembali berseri. yang sebelumnya aku tidak tau lagi harus berbuat apa untuk hidupku. dan sekarang aku bisa tahu apa yang harus aku perjuangkan..

ya aku hanya ingin di sini, sambil memperbesar kapasitas blogku. jika siangnya aku bekerja di pabrik sambil menikmati kebersamaan dengan rafanda, maka malam harinya aku menghbiskan waktu untuk menulis dan mengurus blog milikku.
di sini, rasanya nyaman, aku bisa bertemu dengan rafanda tiap hari, melihat candanya, senyumnya, dan mendengar cerita apapun yang ingin dia ceritakan. dan aku sendiri sudah lupa bahwa aku sebenarnya tidak boleh jatuh cinta, karena aku tidak akan bisa mengendalikan emosi jiwaku yang kadang suka berlebihan..

meskipun hubungan rafanda dan hamid semakin deket, sebenarnya mereka bukanlah pacaran tapi tindakan mereka sudah mampu untuk membuatku cemburu. dan kecemburuan itulah yang memang aku takuti tadinya. sehingga aku tidak mau jatuh cinta terlalu dalam pada rafanda. karena kecemburuan bisa mengubah diriku menjadi bego. dan aneh..!

tapi aku sadari aku sudah kalah, dan aku tidak bisa bohongi lagi bahwa aku sudah jatuh cinta dan aku hanya bisa menunggu konsekuensi nya saja. syukur syukur aku bisa mengubah kepribadianku yang selalu kesulitan jika sudah jatuh cinta.

***

Mbak desi dia adalah mandor di tempat itu, dia itu sedikit tomboy dan asik di ajak berteman,hamid, aku dan mba desi merupakan rekan kerja di pabrik sebelumnya . dan ternyata sekarang dia [mba desi] sudah jadi mandor saja disini. 

dia [mba desi]. terlihat sering memarahi rafanda, aku sendiri kurang paham penyebabnya apa, mungkin karena terlalu menggaggu kinerja si hamid atau apalah aku kurang paham.

dan aku sendiri tidak tega melihat rafanda yang selalu di marahi secara berlebihan oleh mba desi, jujur aku sendiri menganggap bahwa si rafanda kerjanya bagus, dia juga fokus. aku pernah membandingkan hasil kerjaku dengannya ternyata malah bagusan hasil dia.

hari itu kerjaanku lagi kosong, maka aku mengisi waktu senggang dengan duduk di sebelah rafanda, di sebelah rafanda ada keranjang tempat bahan, dan duduklah aku di keranjang yang posisinya lebih pendek dari pada kursi tempat duduknya rafanda itu.

aku pura pura lelah dan menempelkan wajahku kelengan rafanda, aku dusel dusel di lenganya itu. woi woi katanya, sambil melanjutkan pekerjaannya. sedangkan aku berpindah posisi lalu tidur tiduran pada kedua tanganku yang terlipat di atas mesin yang berbentuk meja itu. aku saat itu memang lagi malas, atau lagi pengen di manja kali ya.. atau naluri anak bungsuku yang lagi kambuh. entahlah..

setengah cerita ini baru aku tulis tanpa revisi. aku rindu dia. makanya aku menulis ini. tar kalo rindunya lagi numpuk, akan ku lanjut lagi syukur-syukur bisa aku revisi

Cerpen Cinta Tak Terduga Oleh Hasbiallah Bin Waizulkarni

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *