Jauh dari Rumah | Cerpen Perjuangan

Cerpen Perjuangan | Jauh dari rumah [Belum Revisi].

Dalam kebun karet nan begitu sepi, kandang ayam beserta isinya [anak anak ayam]. mimpiku di bawa babi dan samarannya…

Aku mengerti bahwa babi-babi juga berhak menikmati kebahagiaan bersama keluarganya, tapi sang babi tidak memahami bagaimana aku yang sedang berusaha pula membahagiakan keluargaku.

aku rindu adik dan kakaku, rindu ibu dan bapakku, dan rindu ini lebih baik aku masukkan kedalam karung saja. karena aku percaya jika rindu terlalu berlebihan akan membawa keresahan kepada orang yang aku rindukan.

makanya rindu itu aku lebur sedikit demi sedikit kesetiap biji pur [makanan ayam] dalam karung, supaya nanti rindu berat ini bisa menggemukkan anak-anak ayam dalam kandang itu. lalu rindu di hatiku memudar harapanku keluarga nun jauh disana tidak merisaukan keadaanku di sini.

dan aku bisa fokus menjaga anak ayam,memberi makan anak ayam lalu bisa mengusir babi dengan bijak sana.

***

Namaku karli kalau di pergaulan aku di panggil Aciak/ciak. aku bersyukur karena tidak pernah menjadi alay, umurku 19 tahun aku masih berstatus sebagai preman pasar, meski sempat menjadi tukang pelihara ayam di tengah kebun karet yang agak k3parat itu.

dari SMA Aku memang cukup nakal, segala kelakuanku di sekolah dulu, belum ingin aku ceritakan saat ini. mungkin tidak akan aku ceritakan karena aku sendiri malu menceritakannya.

Langsung saja aku mulai cerita perjuangan ku dari awal sebelum aku sampai di tempat penagkaran ayam negeri/ayam broiler.

         Pembeli berseliweran di tengah pasar tradisional kota bangko , penjual ikan yang tidak pernah terusik oleh seliweran lalat hijau, penjual obat yang tidak pernah bosan berpidato dengan toa murahnya.

dan aku sendiri dengan lapak sayur,di hadapanku ada bawang putih,bawang merah, ada juga cabe. DLL, dagangan milik rekan ku sobri, aku hanya membantu sobri jualan, dan untuk makan rokok dan keperluanku lainnya sobrilah yang tanggung, aku cukup menikmati kegiatan ini, dimana aku bisa bersenda gurau dengan tante-tante menor pembeli sayur.

aku beruntung saat sayur dagangan di tawar oleh janda muda, dan saat itu pula kesialan menghampiriku, karena mbak janda di ambil alih oleh temanku, Tono, yang tiba-tiba datang entah dari mana arahnya lalu menyalami mbak-mbak yang seharusnya ngobrol bersamaku yang tamvan ini.

tono dia termasuk anggota geng preman pasar dan dia rekan baikku, janda semok tadi sudah pergi karena najis dengan sikap tono yang terlalu bersemangat, jangankan untuk melanjutkan ngobrol, beli sayur saja mbaknya tidak jadi.

“Ciak [panggilanku di pasar]. lu mau kerja ngak” kata tono

“kerja apa nyet, lo gak liat gua lagi kerja” jawabku sekenannya

“Kerja kaya gini.!, lu kan tamvan jadi idola cabe-cabean tapi kerjaan lo jualan sayur. addeeh bikin malu gua aja luh. lu gak mau emang punya gaji tetap” kata tono lagi sambil pegang-pegang sayur daganganku lalu melemparnya seolah-olah dia risih.

“punya gaji tiga juta sebulan mau gak lu, bisa puas lu nraktir cabe-cabean se kota bangko ini” kata dia sambil melebarkan kedua tangannya.

“ketek lu bau nyet. kerja apaan sih tiga juta yang benar aja lu. kataku lagi.

Lalu tono menjabarkan panjang lebar bahwa ada yang lagi butuh tenaga buat pelihara ayam Negri/ayam broiler. dengan gaji yang menggiurkan, maka tono menawarkan aku untuk bekerja di sana, dan yang punya usaha ayam itu adalah saudaranya tono sendiri.

Tono sepertinya memang serius, akhirnya akupun mau dan besoknya kita aku tidak jualan, karena harus kerumah saudara tono pemilik usaha ayam broiler itu. saudara tono namanya bapak Adin. umurnya kira-kira 35 tahun lah, tapi perutnya agak buncit meskipun dengan badan yang tidak terlalu gemuk, aneh memang bentuknya, tapi ya sudahlah, itu tidak terlalu penting.

ternyata pak adin memang butuh tenaga kerja, dan gajih, memang sebesar yang tono katakan. dan ada satu hal yang pak adin tidak katakan entah sengaja atau tidak, dan aku juga lupa menanyakan tentang “syarat dan ketentuan berlaku”

***

Sekarang aku bisa punya niatan baik, setidaknya bisa sedikit menutupi kesalahanaku semasa sekolah, yang sering membuat malu orang tua, membuat mereka kecewa karena kelakuan nakalku.

ya sekarang aku bisa bermimpi dan membahagiakan mereka dengan yang aku bisa. meski harus memulai dari kandang ayam broiler, di tempat terpencil nan sunyi ini.

Di arah utara sana. bukit barisan membentang hijau dan luas, dan jauh sekali di belakang bukit-bukit itu tepatnya di Kab. solok Selatan, Kec. sangir, Des. taratak tinggih, ada ibuku yang mungkin sedang memasak di dapur untuk persiapan jika ayahku nanti pulang dari kebun.

dan Adikku yang sedang main bola disawah bersama teman temannya, aku bukan meramal, tapi seperti itulah kebiasaan orang-orang seisi rumahku, dengan kegiatan mereka masing masing. jika sekarang aku di sana maka aku juga sedang main bola di sawah kering itu bersama adikku dan teman lainnya.

mentari yang sebentar lagi beranjak keperaduan, sedang mengukir wajah awan menjadi kemerahan di timur sana, dan mentari yang sama sedang menyaksikan adikku tertawa riang bersama sahabat-sahabatnya, dan menyaksikan ayahku yang mungkin sedang menyandang cangkul di bahunya biasanya jam segini ayahku sedang melangkah menuju rumah, namun cahaya mentari kesulitan menemani kegiatan ibuku, karena tertutup asap yang ngebul dari arah tungku.

semantara aku disini, jauh dari mereka yang aku sayangi, aku berada di daerah paling terpencil dari kota bangko, tepat di sisi kebun karet dan aku sedang duduk di gubuk tempat menjaga ayam. padanganku mengarah ke utara menyaksikan bukit barisan yang hijau dan tinggi.

Aku lagi berhayal, saat gajihan nanti dapat uang tiga juta dan aku izin pulang dulu, lalu aku belikan sepatu bola untuk adikku, membelikan baju kebaya untuk ibuku, dan baju kokoh untuk ayahku, lalu sisa uangnya aku tidak perduli, yang aku inginkan adalah melihat semua orang yang aku sayang bahagia berkat hasil keringatku sendiri.

***

Senja yang pergi dari tadi, sayup-sayup suara azan isya dari kejauhan sana, di saingi oleh suara jangkrik cukup memekakkan telinga.

jika di pasar kemarin aku bisa melupakan semua kegelisahan yang ada bersama teman-teman, melakukan kegiatan apa saja, kebanyakan sih berbuat dosa.

Sekarang semua kegelisahan itu bersemayam semakin dalam, rindu itu yang paling terasa. rumah kayu berwarna hijau di kejauhan sana, rumah itu isinya semua orang yang aku sayangi. mereka sedang bercengkrama, atau mungkin sedang membicarakan aku. entahlah. “enyahlah rasa pilu”.

Aku seperti mendengar suara mendengus di bawah sana, Aku masih belum tahu itu sebenarya suara apa, seperti suara binatang apa gitu, kambing sih tidak mungkin menengus seperti itu. ah sudahlah aku mau shalat Isya dulu. toh posisi anak anak ayam di ketinggian ini. [kandang ayam tinggi]. pasti aman lah.

Selesai shalat aku sengaja mengusir ke sunyian dengan mendengar radio yang kemaren di kasih pak Adin bos baruku [yang punya usaha ayam ini].

aku belum terlalu paham dengan siaran radio yang sedang aku putar entah lah itu berita, atau acara anak muda, dan suara dengusan di bawah sana membuat ku semakin tidak konsentrasi mendengar acara radio.

Akhirnya ku ambil tongkat Base ball yang kemarin aku bawa dari base camp dari pasar, lalu pelan-pelan aku berjalan ke arah pintu gubuk.

“hus hus” aku mencoba mengusir asal suara dengusan tadi.

setelah aku tonggolkan kepala lebih jauh lagi keluar pintu, ternyata ada sekelabat bayangan hitam seukuran kambing jantan, yang di ikuti oleh beberapa bayangan lain sebesar induk ayam. tepat di bawah kandang ayam. spontan aku lempar tongat base ball tadi ke arah bayangan itu, namun sang tongkat mengenai dinding bagian bawah kandang ayam. otomatis suara bising terdengar karena hantaman tongat base ball yang mengenai dinding bambu lalu anak anak ayam yang baru se ukuran telapak tangan di dalamnya menjerit. sedangkan suara bising lainnya berasal dari suara bayangan tadi, yang aku tangkap itu adalah suara teriakan babi yang cukup kencang. lalu mereka kabur entah kearah mana.

sayang sekali besoknya aku dapati anak ayam mati sebanyak 17 ekor karena kejadian semalam, emang dasar anak ayam ini lembek tidak boleh ada suara bising maka mereka akan mati, menurutku lebih baik pingsan dulu kan enak, nanti bisa di akalin supaya bisa pulih kembali.

***

hari demi hari aku lalui dengan nyanyian burung di siang hari, nyanyian kodok jangkrik di malam hari. meski ada radio tapi tidak pernah mendapat sinyal yang baik di tempat ini. lebih banyak suara krusuk krusuknya. dan yang paling bersahabat denganku adalah bau pelet ayam disertai pubnya anak ayam.

“susah senang kita hadapi bersama”, itu ungkapan dulu ketika aku hidup di pasar bersama makhluk tuhan yang masih se jenis denganku yaitu manusia, meski kelakuan mereka agak parah dari manusia biasa.

dan sekarang “susah senang kita hadapi bersama” kataku kepada anak anak ayam di dalam kandang. karena disini jarang sekali ada manusia yang bisa menerima ungkapan itu, karena memang tidak ada kehidupan manusia disini kecuali aku sendiri.

terdengar suara motor trail, dan aku lihat ternyata itu pak adin, bersama istrinya, pak adin mematikan motornya sambil melemparkan senyum termanis padaku. seperti yang dia janjikan sekarang lah saatnya untukku menerima gajih pertama.

aku sudah menyiapkan dompet di kantong belakang jika biasanya dompet itu tidak pernah keluar dari lemari, karena gak akan berguna saat itu,tapi sekarang saat yang tepat untuk memanfaatkannya. aku berfikir cukup kayaknya dompet ini untuk menampung uang tiga juta.

Aku sudah menyiapkan kata-kata untuk minta izin pulang selama beberapa hari, menengok kelaurga di kampung.

dan senang sekali rasanya saat pak adin merogoh kantong belakang lalu menghitung duit dari dalam dompet itu tanpa mengeluarkannya, dan akhirnya dia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. lalu dia mengulurkan padaku.

“Maaf pak bukannya kesepakatan awal kita tidak segini” aku mencoba protes

lalu pak adin tersenyum padaku diikuti oleh istrinya yang tersenyum pula lalu pak adin bilang

“Usaha kita Rugi ya karli” katanya dengan santai.

gila ni orang aku yakin kepalanya ingin merasakan pentungan . aku jadi merasa lebih kesal melihat Melihat K3parat ini dari pada Babi kemaren,“oh ya tongkat base ball”.

Jauh dari rumah Oleh Hasbiallah bin Waizulkarni.

Sumber/Narator Karli Putra bin Waizulkarni.

kategory : Cerpen Perjuangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *