Hanya 10 Meter dari Gerbang [cerpen]

Diposting pada
Hanya 10 Meter dari Gerbang
Hanya 10 Meter dari Gerbang

Cerpen  ini merupakan pengalaman pribadi penulis [admin]. nama nama pada cerpen ini merupakan nama samaran..

maka silahkan teman baca sampai selesai [aku maksa].. agar tidak terjadi salah paham di antara kita berdua, atau berlima atau sebanyak yang membaca cerpen perdana aku ini [update sudah di revisi]…

sebelum teman membaca aku mohon maaf karena tidak bermaksud memberi pengaruh buruk pada pembaca.

Namaku randi aku pernah bekerja sebagai karyawan salah satu pabrik di kota tangerang, Di tempatku bekerja ada fasilitas mes [Tempat tinnggal karyawan], sebenarnya kebetulan saja ada ruang kosong di lantai dua masih di dalam lingkungan pabrik dan kita  diizinkan mengisinya, dan ruang itulah yang di sebut mes, aku dan beberapa teman lain menempatinya.

Pos security Letaknya tepat samping parkiran motor di bawah mes, dan pos itu tempat nongkrong kesukaan kami [anak anak mes]. pos ini bisa disebut basecamp, saat libur atau sepulang kerja, kami biasanya nongkrong di pos ini.

gajiku di pabrik jauh di bawah Upah Minimum. mau tidak mau aku harus punya penghasilan sampingan agar bisa bertahan hidup disini. karena gaji hanya cukup untuk bayar hutang makan , jika hutang makan lunas maka hutang rokok harus nunggak, hutang rokok dan makan lunas maka hutang pulsa nunggak.

gajihan bulan ini yang terpaksa aku tunggakin adalah hutang di ibuk tukang soto.

randi kamu gak bisa gitu ya, hutang makan kamu yang bulan ini dan sisa bulan kemaren harus di lunasin, saya ngak mau dengar alasan apapun dari kamu.

Ia buk gampang, besok aku bayar.. jawabku dan langsung pergi dari hadapannya, “kalau kamu tidak bayar gaji bulan besok langsung aku potong sama pak jajun” [pak jajun personalia tidak profesional].

yah nih orang masih saja dia ngoceh. aku sih diam aja sambil terus berjalan menjauhi dia.

Seperti biasa aku harus mempertaruhkan nyawa demi uang tambahan untuk membayar hutang ke tukang soto.

“jam 10 malam tadi pria berinisial KKN dihakimi warga di kota tangerang. pria malang ini kedapatan mencuri motor dan meninggal di keroyok masa, kepolisian setempat terlambat datang ke lokasi kejadian”

kalimat itu dari suara  reporter televisi swasta. pada layar televisi  ada mayat pria yang hangus samar-samar di balik tayangan yang di sensor. m@tikan Wajarlah karena  bodoh dalam bertindak, kalau aku pasti bisa bertidak jauh lebih baik dari lu.

oh ya di antara semua penghuni mes yang berjumlah sepuluh orang. hanya dua teman yang mengetahui kerja sampinganku dan mereka aku beri jatah uang setiap aksiku berhasil. aku ingin mereka menikmati hasil perjuanganku. dan berita kematian si KKN tadi cukup menjadi pelajaran saja supaya aku lebih hati hati lagi dalam bertindak.

***

Aku berdiri di depan pitu pos security dengan posisi dimana jam dinding terlihat jelas dari luar pintu pos, di dalam pos hanya ada suara televisi dengan tampilan layar bintik-bintik dan tidak ada satupun yang menonton, mungkin gaji teman-temanku masih sisa dan mereka bisa foya-foya di luar sana. sedangkan penjaga benteng [pak satpam] biasanya  jam segini sedang  jadwal kontrol kedalam gedung pabrik.

Suasana lengang ini aku nikmati sendiri, pohon besar yang tumbuh dihalaman pos seperti ingin menegurku, sang pohon sepertinya sengaja menjatuhkan beberapa daun dan salah satu daun hinggap di kepalaku. dan daun lain melayang layang ke pojokan parkiran.

dimana sebuah motor kopling 150 cc sedang terparkir, cakram motor ini bebas dari gembok dengan posisinya hanya sekitar 10 meter dari gerbang pabrik yang sedang menganga lebar, mungkin pak sapam lupa menutupnya, cukup lama aku perhatikan motor yang sudah di modifikasi itu. keren modifnya pasti mahal

pemiik motor ini sedang di lantai atas [kamar mes], Aku sengaja memasang muka  santai  jika ada seseorang menegur atau lewat aku harus senyum dan berlaku seolah seperti tidak ada apa-apa.

setelahku pastikan tidak ada lagi orang di sekitar sini aku bergerak mengikuti arah daun yang masih melayang layang dan melampaui motor, sedangkan aku berhenti dan duduk di jok motor.

setang motor sudah dimodif dengan setang jepit bermerek, yang pasti harganya mahal, aku pegang sebentar saja “Mantap nih motor”, aku tengok ke kiri kanan, dan kembali bersikap seolah santai. seharusnya memang biasa saja karena tidak ada satuhalpun yang seharusnya dirisaukan. aman kok,!

Aku lihat jam masih pukul  delapan kurang sepuluh artinya pak security masih sepuluh menit lagi memeriksa keadaan di dalam gedung pabrik. biasanya dia jam 8-00 atau lebih baru baru kembali ke pos jaga.

inilah saatnya  untuk lepas landas dan beruntungnya tidak ada  yang berteriak memanggilku , siapa yang mau manggilku lagi sepi begini.

spontan saja aku tersenyum saat terfikir kalimat itu.. jika ada yang memanggil, terpaksa aku batalkan semuanya dan harus siap menanggung resiko [malu].

sebenarnya dari lubuk hati, aku bertanya tanya.. kenapa ya aku menjadi manusia yang seperti ini…??

dan pertanyaan yang melemahkan itu aku lawan dengan cara berfikir menggunakan kepala, jika masih saja akal sehatku dikalahkan hati maka tidak akan berhasil usaha ini.

***

Aku sampai didepan warung makan yang ada pohon mangga besar di halamannya..

bapak-bapak berumur sekitar 50 tahunan sedang duduk di bangku panjang depan warungnya, aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Om

Nama beliau om erwin asli betawi, kerja beliau bengkel, untuk bongkar pasang maupun harga spare part kendaraan, om erwin ahlinya. dan warung adalah usaha istrinya kalau kerjaan om erwin lagi kosong maka beliau  membantu ibuk [istrinyanya] di warung

Tumben nih udah lama ngak kesini mana aje kata om menyapaku diiringi seyuman khasnya.

Ada om, sekarang lembur terus di pabrik. tumben make baju bengkel om. aku lanjutkan pembicaraan

belum sempat dijawab sama om erwin, tiba tiba cowo bertubuh tinggi dengan jaket hitam lewat persis di hadapanku, pria itu langsung ulurkan tangan menyalami om erwin, dan cowo itu tidak menyalamiku, dia langsung melangkah kedalam rumah yang letaknya di sebelah warung. mungkin dia akan introgasi seseorang didalam sana

akal sehat yang tadi sudah aku bangun dengan susah payah terbang sudah di bawa angin entah kemana arahnya, kini hatiku yang menguasai kendali, aku tidak mengerti lagi cara mengisi kepala dengan akal sehat seperti tadi.

Semua akan baik-baik saja, aku pertahankan pikiran itu dalam kepala. tapi tetap tidak mampu melawan rasa silu.

paling juga di cuekin didalam sana, aku coba menyilih kalimat di kepalaku, dan kalimat langsung terjawab.

si cowo keluar dari dalam rumah bersama rafanda [anaknya om erwin]. dia izin pamit katanya ngajak rafanda nonton. artinya dia disambut dengan baik di dalam sana.

berakhirlah segala usahaku untuk bertahan, sekarang saatnya aku menikmati semua tilikan. aku  tidak mengerti harus menulis persaan itu dengan kalimat seperti apa.

yang jelas cowo  menyalakan motornya lalu rafanda menoleh ke aku sebelum naik di jok belakang. dan kronlogis itu rasanya spesial banget di persembahkan untukku dan aku menikmatinya dengan semua rasa yang ada

aku terimakasih banget sama om ayah rafanda, beliau usaha banget agar aku tidak terlanjur larut dengan perasaanku ,om erwin bercerita tentang apapun yang kira-kira menarik untuk ku dengar, om erwin tahu, dari tadi aku tidak fokus hingga akhirnya beliau memasang wajah ceria dan sedikit menaikkan nada bicaranya.

Akupun berusaha mengembalikan keadaan dengan menyimak cerita beliau, sepertinya cerita tentang baju bengkel yang tadi sempat aku tanyakan. jujur aku masih belum fokus dengan cerita beliau

hampir lupa.! cowo  itu pacarnya rafanda.

beh beli, kata pelanggan yang ingin belanja di warungnya.

om erwin belum menjawab pelanggannya,beliau masih berusaha menyelesaikan ceritanya. karena pelanggan terlihat buru-buru maka om berdiri lalu mengambil bungkus untuk pesanan pelanngannya, kini cerita beliau sudah berakhir.

om pamit pulang ucapku padanya.

sebelum sampai di gerbang pabrik. motor kopling 150 cc yang tadi aku duduki, keluar melalui gerbang pabrik dan aku akan masuk lewat gerbang yang sama.

hey randi dari mana lu. kata orang yang mengedarai motor itu.

dari rumah rafanda lu ya, gimana gimana hasil ngak.. tambahnya lagi.

bukan.! gua dari warung. beli rokok jawabku singkat.

bohong lu katanya lagi sambil menoleh menyungingkan senyum kearahku.

aku tidak memperdulikannya dan terus mengayunkan langkah menuju tangga mes.

pemilik motor kopling 150 cc itu si ismed, dia temanku yang sama sama bekerja di pabrik, tapi dia bukan penghuni mes karena dia asli anak sini.

dan rumah rafanda hanya berjarak 10 meter dari gerbang pabrik tempat aku berpapasan dengan ismet, jika aku adalah kamu sebenarnya tidak akan sulit mendapatkan rafanda. deket gitu.

sekarang perjuangan pertamaku sudah berakhir dan aku kalah, saatnya melanjutkan ke misi berikutnya mencari uang tambahan untuk bayar hutang yang masih tersisa setengah karung lagi.

cara ku mencari uang tambahan seperti ini.

pertama nyalakan laptop. lalu buka email, dan hubungi komplotan blogger dan semua pemilik website yang alamat emailnya sudah aku dapatkan. dan tulis seperti ini.

halo bapak/ibu

kami dari sukacerita.com menawarkan kerjasama menulis artikel dan berikut ini keutungan yang akan kami berikan kapada bisnis bapak/ibu

1234567

jika bapak/ibu tertarik berikut ini harga yang kami tawararkan.

1234567

terimakasih.

nah berbekal email tersebut aku akan menerima pemesan artikel dengan harga yang sudah aku tentukan.

apakah aku bertaruh nyawa mengerjakan pesanan artikel..?

sebenarnya tidak seberlebihan itu, hanya tidak tidur sama sekali selama tiga hari tiga malam , pernah tidur hanya lima jam dalam lima hari. tanpa mementingkan asupan makan. mau makan mau enggak yang penting bisa ngerjain pesanan.

aku kurang tidur bukan karena mengerjakan pesanan artikel tapi karena server websiteku rusak dan aku perbaiki sendiri tanpa keahlian ilmu koding. [mau nyewa jasa orang lain gak punya dana]

akibatnya rusak websiteku semakin hari semakin parah lalu mati, alhamdulilah akunya selamat, walaupun pesanan artikel tidak bisa aku kerjakan lagi, karena tidak ada blog lagi untuk menampungnya. dan nasib hutangku waullahualam.

sekarang aku tidak bekerja disitu lagi dan, rasa rindu untuk rafanda entah kenapa berat juga rasanya, aku ingin kembali kesitu lagi supaya bisa meliha rafanda setiap hari meski dengan semua rasa yang ada. berjuang dengan dengan keadaan seperti apapun juga.

aku menikmati itu, sebenarnya aku beruntung karena tidak terfikir untuk bertindak bodoh seperti almarhum KKN di berita itu, sekalipun aku sudah di pecat dari pabrik karena libur saat disuruh lembur, sekarang aku hanya pergi mencari cara lain untuk menghidupkan website ku dan juga menghidupi diriku sendiri.

yang pasti aku akan kembali ke rumah Om untuk mengucap kata “Om Aku ingin menikah dengan Rafanda”

Hanya 10 Meter dari Gerbang oleh Hasbiallah bin Waizulkarni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *