Ingin Ku lihat Kamu dari Jarak 384.400 km [cerpen]

Diposting pada
Ingin Ku lihat dari Jarak 384.400 km
Ingin Ku lihat dari Jarak 384.400 km

di ambil dari kisahnyata penulis, nama dalam cerita ini disamarkan.

aku duduk di sebuah kursi plastik, ada beberapa orang di sebelahku salah satunya mbak mbak yang sedang memangku anaknya, kami berada tidak jauh dari gerobak yang ada lemarinya, gerobak itu milik tukang sate padang, ia sedang merunduk lalu tegak lalu merunduk lagi bolak-balik menyiapkan pesanan.

uda tukang sate padang cukup sabar menghadapi beberapa konsumen yang meminta pesanannya di segerakan, ada sekitar lima orang yang berdiri di sebelahnya. tadinya aku ikut bersaing dengan ibuk-ibuk rempong di pinggir gerobak itu, karena ada yang menelfon akupun mengalah, dan pindah ke tempat duduk dari kursi palstik berwarna biru ini.

di depan ruko sudah tutup dan tukang sate padang mengambil alih halaman ruko ini, dan kami yaang berada disini tidak memeprdulikan deru kendaraan yang beralalu-lalang, dan bersikap biasa, saat terdengar teriakan sopir angkot menghardik pengendara motor yang menghalangi lajunya.

Lampu penerang jalan di jalur utama serang-tangerang ini tidak terlalu kuperdulikan. bagiku sang lampu hanya penghias malam karena pamornya dikalahkan bulan purnama ke 14 yang gagah perkasa di angkasa sana. cuaca begitu bagus.

kabar dari penelfon tadi membuat aku tertarik untuk mengetahui jarak dari bumi ini menuju bulan.?

jaraknya lumayan jauh ternyata, aku cek di google segini “384.400 km”.

dapatkah aku melihatnya dari jarak sejauh itu, jika bisa aku ingin kesana ikut bersama hewa- hewan  yang bisa terbang, nanti saat aku sudah sampai di bulan, aku bisa bertemu, dan dia pasti menyapaku seperti ini hey karajong indak kamu ngapain kesini kangen yaaa sama aku. 

***

Aku bangun tidur jam sebelas siang, masih pakai celana pendek dan baju oblong bekas main futsal. sehabis main futsal aku belum sempat mandi ataupun ganti kostum yang masih melekat di tubuhku hingga tertidur dan bangun terbangun lagi di minggu siang.

Ku ambil handuk yang menggantung di depan kontrakan dengan niat ingin mandi, supaya sehat dan bersih dan bonusnya di bilang tampan sama tetangga sebelah

hey karajong inda.! kamu baru bangun jam segini, mau jadi apa kamu haaaah, kata teh mivia menghardikku, teh mivia menatapku dengan sadis dengan mata terbelalak ekspresinya seperti cewe yang paling jahat. nih orang kebanyakan nonton sinetron kali.

aku diam saja dan handuk yang ku ambil tadi ku lingkarkan dileher, lalu ku datangi teh mivia dengan ekspresinya yang masih sama.

ku jangkau tangan kirinya dan dia menghindar dari jangkauanku, aku tidak menjangkau tangan kanannya karena sedang memegang sapu.

gak usah pegang-pegang ya. katanya lagi.

aku sih diam aja dengan senyum tipis, sebenarnya aku ingin membuat dia kesal, lebih seru kalau dia lagi kesal.

aku menengok ke dalam kamar kontrakan teh mivia. beberapa lemari yang biasanya berdiri rapih sekarang posisinya miring, debu biasanya tidak berani menampakkan diri di kamar teh mivia yang super bersih, sekarang debu itu berterbangan di mana-mana.

teh via mau pindahan emang.? tanyaku dan langsung jongkok di tembok rendah pembatas kamar ku dan kamar kontrakan teh mivia.

iya aku mau pindah sahutnya.

kok pindah kenapa emang, ada masalah.. tanyaku lagi.

kamu pake nanya, masalahnya ya kamu, berisik kalau malam-malam. aku kesal gak bisa tidur. kata teh mivia

aku sih belum nyahut lagi, soalnya aku kadang memang berisik kalo temanku datang ramean.

kecewa rasanya hati saat ini, masa iya teh mivia harus pindah, mau godain siapa lagi aku.

bohong teh via mah. paling juga bersih-bersih. jawabku gak percaya..

terserah kamu kalo gak percaya.. jawab teh mivia. lalu dia masuk ke kamar sedangkan aku nongkrong saja di tembok pembatas yang posisinya pas dengan pintu kamar teh mivia, dan aku ngak mau bantuin kalau dia memang mau pindahan.

bantuin lah, diam aja kamu. katanya dari dalam.

nggak. jawabku singkat sambil memperhatikan dia dari luar pintu, sejujurnya aku gak rela jika teh mivia harus pindah

***

oh ya lupa aku belum kenalin teh mivia.!

dia cantik berkulit putih bersih bagaikan saju di kutub utara. badannya berisi tapi tidak gendut, tingginya sebahuku, jika aku bilang’ teh mivia gendutan sekarang’, dia pasti ngebantah, jika aku memaksa dan bilang ‘teh via emang gendut kok’. bantahannya berubah menjadi berbahaya. aku tidak berani bilang gendut saat teh mivia lagi megang sapu.

aku pernah cemburu sama teh mivia waktu dia lagi jalan sama pacarnya, meski cemburu itu hanya sesaat, karena aku tahu teh mivia sudah berusia 24 tahun sedangkan aku baru 20 tahun kurang. teh mivia sudah punya pacar dan mereka berusia sama, sebentar lagi teh mivia akan dinikahi pacarnya itu.

biarlah, aku memang lebih cocok sebagai adik baginya, walaupun aku di perlakukan teh mivia sebagai adik yang imut dan manja. wkwkwkwk.

seperti waktu itu dia pura-pura pindah supaya aku merasa kehilangan mungkin. padahal dia cuma bersih bersih.

***

kendaraan di jalan raya serang-tangerang sudah mulai berkurang, suara klakson yang tadi silih berganti berganti dengan suara mesin kendaraan yang melaju jadi lebih kencang.

jauh di atas sana gerombolan awan seperti tidak ingin menutup wajah rembulan. mereka membiarkanku menikmati seutuhnya, mungkin alam tahu bahwa aku lagi butuh rembulan supaya ada keindahan untuk peredam hatiku yang rindu dan pilu.

aku disadarkan oleh pria yang sedang senyum di hadapanku, sepertinya sang pria ingin menunjukkan diri sebagai waiters yang ramah.lalu dia [waiters sate padang pinggir jalan]. menghidangkan menu andalannya, aku hanya senyum, dan bilang ‘makasih’.

aku tersenyum bukan sengaja membalas senyum sang waiters, aku hanya ingat kalimat “karajong indak” yang selalu di ucapkan teh mivia padaku, dan hanya teh mivia yang bisa membuat nada dan irama itu terdengar menyebalkan.

asap sate dari piringku melayang-layang samar-samar, sedangkan aku menyenderkan tubuh ke bangku plastik dan memastikan wajahku mengarah ke arah bulan, aku ingin sejenak menikmati pilu mendalam, tidak perduli dengan orang sekitar yang mungkin mengira aku lebay, tak perduli juga dengan sate padang dalam piring itu.

384.400 km itu jauh sekali, tidak mungkin aku bisa melihat seseorang jika jaraknya sejauh itu, sedangkan lebih jauh lagi dari itu. masa dan waktu di dunia tidak bisa mengalahkan jauhnya.

sudahlah.! pasti semua rasa bisa di redam doa.

walaupun karajong indak kembali terngiang, kalimat itu sebenarnya terinspirasi dari uni [kakak perempuanku]. jika aku terlambat bangun maka uniku mendatangi kamarku lalu menegtok pintu dan berteriak ‘jago ang lai yuang karajo indak’ [bahasa minang]. sebagai tetangga terdekat teh mivia selalu mendengarnya dan dia menangkap unjungnya saja, yaitunya Karajo indak. yang berarti “mau berangkat kerja ngak”.

dan teh mivia menirukannya tapi meleset jadi “karajong indak” pada akhirnya dia mengganti namaku dengan sebutan itu. dan dia satu-satunya makhluk tuhan yang memanggilku dengan panggilan karajong indak.

saat itu bete rasanya di panggil karangjong indak, sekarang malah rindu.

***

mas baru putus cinta ya kayaknya berat banget. kata mbak dari bangku sebelahku.

enggak mbak. jawabku mencoba menoleh dan memberikan senyum termanis untuk mbak yang sedang memangku anaknya itu.

lalu.! kata mbaknya sambil menoleh ke aku, kedua alisnya seperti bertemu dan terus menatapku. mungkin mbak ini butuh banget jawaban serius.

lagi kecewa aja mbak sama cewe tetanggaku yang pura-pura pindah padahal dia bohong. jawabku

oooh kata mbaknya lalu tersenyum kecut dan menjauhkan wajahnya dari hadapanku.

itu dulu mbak dan sekarang dia pindah sungguhan.! kataku melanjutkan tanpa memikirkan sikap si mbak. sepertinya mbaknya kecewa dengan jawabanku, lalu menyuapi anaknya tanpa menghiraukan perkataan aku.

aku mengubah posisi duduk supaya mengarah ke mbaknya lalu aku cubit anaknya yang lucu itu.

mas umur berapa. katanya

baru 19 tahun mbak, jawabku.

oooh pantesan patah hati memang perih mas, jangan bunuh diri loh ya, ucapnya sambil pasang senyum padaku.

emang seperti apa sih cewe itu, sampai bikin si mas gak sanggup makan sate. cantik gituh.? kata dia melanjutkan pembicaraan

iya cantik mbak mungkin karena terbiasa bersama rasanya lebih dari sekedar cantik. jawabku

ooh yang sabar ya mas, kata mbaknya lagi

ia mbak pasti.

aku ingin melanjutkan pembicaraan kami. sebelumnya. aku tunggu bahasa wajah mbaknya lebih tenang dulu, supaya nanti dia mendengar ku dengan baik, setelah memastikan mbaknya siap menerima ungkapanku, barulah aku terus terang padanya.

sebenarnya aku baru dapat kabar mbak, cewe tetanggaku yang paling cantik itu baru saja meninggal.

Ingin Ku lihat kamu dari Jarak 384.400 km Oleh Hasbiallah bin Waizulkarni.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *