Pelit

emosional menagis

Pelit Oleh Hasbiallah- Namaku Umbara biasa di panggil bara, aku kenal Hasbi [yang jadi tukang tulis ceritaku ini]. aku sempat bekerja bareng dengan Hasbi, sebagai marketing di daerah Gading Serpong Tagerang.

Setelah beberapa tahun terpisah akhirnya kita bertemu kembali dan kami bercerita banyak hal, lalu dia menawarkan supaya kisah aku di tulis di blognya sukacerita.com yaitu tempat cerita ini di publish. aku sih setuju aja.

Jadi gini!

Saudara Reno

Hidup di perantauan mengharuskan seseorang untuk berfikir keras bagaimana caranya supaya tetap bisa makan tiga kali sehari, setidaknya dua kali sehari, yang meyakitkan satu kali sehari, atau yang penting hidup!

Sama seperti Aku [Umbara], Sahabatku Reno, dan satu teman lagi yang agak kampret namanya Adri. Kami tiga pemuda dengan tiga kepala yang isinya sama, namun cara menggunakannya berbeda.

***

Aku dengan Reno Kerja bareng di pabrik Sepatu, sebagai karyawan yang gajinya UMR, Awalnya aku tinggal bareng saudaraku, karena ngak enak aku fikir lebih baik mengontrak, kali! aku kan udah gede masa numpang melulu?

Jam istirahat di kantin, Aku hampiri Reno yang sedang ngopi di kantin pabrik.

“Ren! lu gak Takut miskin?” kataku berseloroh

“Udah biasa miskin gua! kenapa lo?” Tanya reno agak heran

“Ngak sih gua takut lu bun#h diri aja!” Kataku spontan

“Sial lo” kata dia kesal “Lu mau ngapain mau nawarin MLM?” tanya dia

“Ngak ngak ngak” aku seruput kopinya dia lalu aku lanjutkan “Ya sih gua manawarin ini, apa sih itu namanya,? aduh ngak enak gua ngomongnya” ungkapku sengaja memperpanjang percakapan.

“Eh, kampret! lu cinta sama gua? gua normal! tadi habis cek di dokter coyke katanya seratus persen gua sukanya sama” belum selesai dia ngomong.

“Tante Tante” kataku memotong kalimat dia.

Akhirnya dia tertawa ngakak dan aku mengikuti dengan tawa yang lebih keras….

lalu aku katakan padanya “Supaya lu bisa Hemat bayar kontrakan, mendingan kita mengontrak bareng aja!”

“Ya Elah…, Bawa baju lu, Semvaq lu de el el nya, trus taruh di kontrakan, ntar pas gajian, bayar!” kata dia kesal “gitu doang ribet amat lu!” kata dia lagi.

“Okay” kata ku singkat.

Pada suatu senja nan cerah saat aku dan beberapa tetangga kontrakan menongkrong saja di beranda, ada bapak-bapak ibu-ibu dan juga anak anak yang berlarian kesana kemari.

Sementara dari gerbang muncullah Reno bersama seorang pria berkulit putih, gaya rambutnya cepak ngehek, memakai baju kameja dengan celaja jeans dan juga sepatu, Kulihat Dandanan orang itu terlalu lebay untuk kawasan kontrakan ini.

“Bara ini saudara gua, Dia mau ngontrak bareng kita” kata Reno

“Ok” Jawab ku singkat

Lalu aku dan orang yang terlalu tampan itu salaman dan dia menyebutkan namanya, ternyata namanya Adri, sedangkan aku senyum saja, nanti juga nih orang bakalan tau juga namaku.

Sebenarnya agak malaes sih, yang biasanya aku paling tampan disini, sekarang malah kedatangan yang lebih tampan, dan juga lebih rapi, Sepertinya cewe cewe tetangga kontrakan akan lebih sering godain nih orang di badingin aku. Si@l!

Tas Shoulder Bag Adri

“Hari libur yang indah untuk belanja, sebab transferan telah tiba saatnya kita menuju supermarket ternama, supaya dikira orang punya…. yowyowyow evri badi” Aku nge Rap sehabis mandi.

dengan santainya “Kemana kemana kemana…,” sambungku lagi

“Lagi banyak duit aja bahagia lu! udah miskin aja, kaya orang b3go” kata Reno

“Setajam bawang bibirmu kawan” tidakkah kau mengerti akibat dari ucapanmu itu…, mencucurkan air mata!” Candaku

“Eh gua lihat tadi tas lo tadi di bawa Adri” kata Reno mengingatkan.

aku agak kaget solanya itu tas mau aku bawa.

“Adduh…, kan mau gua pake coy, tuh anak kenapa ngak ngomong?” protesku

“Bawa tas dia aja” kata reno lagi

Sebenarnya tas Shuolder bag milik Adri jauh lebih mahal dan bagus dari pada punya aku tapi, jujur. aku lebih nyaman ketika membawa barang milikku sendiri.

Sedangkan di situ, aku terpaksa membawa soulder bag [Tas pundak] milik Adri yang sebenarnya tidak aku suka modelnya, tapi apa boleh buat, dia sendiri membawa tasku tanpa Izin, nih anak sudah mulai membuat aku bergidik sebenarnya.

Tapi wajar sih namanya kita ngontrak bareng, tukeran barang itu biasa. biasa banget malah, tapi ada yang kurang di Adri, dia tidak izin dulu ketika ingin menggunakan benda milik orang lain, K@mpret memang!

“Dia kemana?” tanyaku ke reno

“Mancing!” jawab reno singkat

“Ya elah…, untung dia saudara lu!” kataku kesal

“Ya udah tenang aja lu, Persoalan kodok ini mah!” jawab Reno mencoba menenangkan aku

Akhirnya aku mencoba melupakan kekesalan, Karena hari ini happi time bukan kesal time, hari libur sayang kalau di nikmati dengan bete.

Tas Rusak

One week later….

saat aku dan Reno sedang makan ketoprak bareng, di kamar kontrakan, adri datang dengan wajah yang masam, dia tidak bicara hanya berjalan menuju lemari tempat di mana tasnya berada, yang pernah aku pakai seminggu yang lalu.

lalu dia berdiri agak lama disana, membolak balikkan tas [shouldher bag], miliknya itu, tiba tiba saja dia banting ke lantai, wajahnya menyebalkan banget kelihatannya, dan Aku yang terkaget, disusul oleh Emosi yang membuncah di dadaku.

“Hoi sopan!” Bentakku

“Tas ini mahal, tau ngak kamu, maen pake pake saja, ini jadi rusak!” Sergah dia

Aku langsung berdiri saat itu dan ingin sekali rasanya…. aku tidak ingin menceritakan tentang itu, kita skip saja disini.

dan Reno menenangkan aku dan menyuruh Adri entah kemana soalnya dia mengajak Adri keluar kontrakan, dan setelah itu Reno masuk sendiri, sedang Adri sudah entah kemana…! Bodo Amat.

dan Tas Shuolder Bag milik adri masih di lantai, sejujurnya ingin aku bakar, karena aku sudah belajar bersabar, maka aku tenangkan pikiranku, aku perhatikan shoulder bag [tas] adri dengan seksama, Ternyata Resletingnya hilang satu. Entah Kenapa aku juga not andesten. soalnya pas kemaren aku pake tas itu baik baik saja.

One Hours later lebih dikit

Adri menelfonku

“Umbara, masalah tas tadi!” suara Adri “aku sih tidak terlalu masalah, kalo kamu mau mengganti separuh harganya” Nanti aku ambil tasnya sekalian kamu menyiapkan itu! ganti kerusakannya” tambah dia

“OK siap. Lu kesini aja” Jawabku.

Belum sampai satu bulan ngontrak bareng dengan Adri aku sudah sangat kesal dengan polah ni anak, sejujurnya orang seperti ini, belum pernah aku temukan sebelumnya, benar benar perhitungan, bagiku kepelitan orang ini luar biasa Mantul.

Dan aku sudah punya strategi keren buat memberi pelajaran ke anak ini [adri] kita lihat aja nanti.

Efek saudara pelit [Reno Kesurupan]

“Reno murung baget hari ini dia begitu lelah sepertinya, mungkin dia kecapek an!” pikirku “EH kok aku jadi begini, dia kan cowo!, aku juga cowo, perhatian seperti ini bukanya dari istri untuk suaminya” pikirku lagi. “duh amit amit” kataku pelan.

Di pagar tembok depan kontrakan itu Reno sedang duduk, sedangkan matanya terlihat kosong, menatap jauh ke depan, padahal di depan juga, adanya tembok!, terus nih orang ngeliatin apa an ya? kesurupan kali.

“Ren” sapa ku

dia diam aja

“Reno” Aku setengah berteriak

“Wooeh kaget gua” kata dia sambil menegok dengan wajah yang masih agak bingung.

“Ada satu M utang lu?” tanyaku

“Apaan sih lu” kata reno protes

“Jangan jangan habis k#rups! lu?” wah parah Reno ngak nyangka gua” tuduhku sengaja membuat dia tersadar.

“Kampr3e3eet apaan sih…., Gue” belum selesai dia ngomong

“Lu pengen Berak?” tanyaku memotong kalimatnya “di toilet doooong, kan ada airnya tapi jangan lupa c3bok loh ren” sambungku

dia hanya tertawa kecil saja dan langsung curhat

“Gua bingung Ra [umbara]” kata reno “Si adri, dia kan tanggung jawab gua di sini, nah dianya pergi, gara gara tas itu, sedangkan tadi bapaknya nelfon gua, dia ngadu itu si kampret, gua di omelin bapak Adri lu kan tau bapaknya itu paman gua, eh emak gua juga ikut ikut ngomel telfonnya di spikerin kali sampe semua orang ikut ngomelin gua, jangan jangan orang sekampung juga ikutan denger kali” curhat Reno

aku berdiri saja menyender ke tembok, mencoba bersabar mendengarkan semua s@mpah yang di keluarkan Reno, dan kupingku adalah sarana yang tepat untuk menumpukkanya, sebagai teman baik tentu aku bersedia menampungnya. sedangkan reno yang duduk di atas tembok itu, posisinya di sebelahku, kembali menumpahkan se kresek samp@h lagi.

“Adri bilangnya gua usir, udah gitu, Adri itu Like father like son, kayak gimana perhitungannya Adri maka lebih lebih bapaknya, jadinya tas itu juga masalah besar bagi bapaknya” kata reno

Mendengar cerita reno, aku jadi kaga enak sama dia, soalnya yang jadi tersangka [Menurut Adri] tukang ngilangin Resleting tas itu kan aku, tapi jujur sebenarnya bukan aku, tapi males aja ngurusin hal sepele itu, cuman resleting tas, terus aku memohon mohon bilang bukan aku loh…, pelakuknya, tolongg bukan aku pelakunya. gila aku tidak akan melakukan itu.

bahkan tasnya saja sudah aku bakar, supaya permasalahan ini menjadi Real sebagai masalah yang patut di permasalahkan. resltingnya doang tanggung soalnya, terlalu sepele.

Tapi gara gara Reno curhat aku jadinya tidak enak. bahkan agak menyesal membakar tas itu, takutnya si Reno semakin ribet nantinya.

“Aaaaah Bodo amat” tiba tiba reno mengucapkan itu

dan dia melompat dari pagar tembok, lalu berkata “mau jajan dulu gua ke warung, lu tunggu disini, ntar sekalian gua ngajak anak anak kesini supaya malam ini engak bete” kata reno lagi

“OK” Jawabku singkat

Aku juga ngak tau gimana reaksi reno saat tahu tas milik Adri sudah jadi abu di tempat sampah.

Azab orang Pelit [Adri]

Sepulang dari kerja, aku lihat Adri sudah di kontrakan, dia sedang makan nasi padang sepertinya.

“Hey Ra udah pulang kerja nih!” kata Adri sok akrab

“M#nyet” kataku dalam hati, tapi aku hanya tersenyum padanya, aku usahakan tersenyum semanis mungkin.

“Sebenarnya Tas aku harganya enam ratus ribu sih, barunya, kamu bayar dua ratus lima puluh aja” Ucap Adri dengan santainya sembari mengunyah nasi padang.

Mendengar itu, wajahku serasa kayak lagi deman, Panas gitu, Jantungku berdegup, didada, bahkan telingaku mendengar degupan jantungku sendiri, Berat rasanya untuk berusaha santai, tapi aku harus lakukan.

“Ok Dri tenang aja lu, kebetulan duitnya lagi ada” kataku

susah sekali untuk mengucapkan itu, tadinya ingin ku bilang padanya “B@ngs@t” tapi terpaksa aku redam.

Terdengar suara motor Reno dari gerbang, tidak lama dia masuk ke kontrakan dengan menenteng Tas baru yang sama persis dengan milik Adri yag sudah aku bakar kemaren. semua orang ini belum tahu bahwa atas itu sudah aku bakar, agak deg degan sih sebenarnya

“Reno tas kamu sama samain punya aku” ucap adri di sela sela mengunyah makanan “Ternyata sepupuku ngenfans sama aku! tidak ku sangka!” sambungnya lagi lalu melanjutkan kegiatan makannya.

“Heh Adri bisa aja” jawab Reno sambil merebahkan dirinya di kasur lantai kontrakan.

saat itu suasana kontrakan agak hening kecuali hanya kipas yang bergoyang, di saat itu keluarlah sebuah kalimat dari Adri

“Oh ya, tas aku mau aku jual aja, sedangkan Uang dari Bara mau aku pake buat beli baru di tambahin dengan uang hasil jual ini” tas ini beremerek loh, jadi yang bekas juga laku!” dengan santainya Adri bicara.

Mendengar kalimat Adri itu aku dan bara spontan saling pandang tapi hanya diam saja, sembari tersenyum miris.

Lalu adri selesai makannya dan dia membuang bungkus nasi padang itu, ketika masuk lagi dia bertanya

“Mana tas ku Ra”

Lalu aku menuju lemari dan mengambil sebuah kresek yang sudah aku ikatkan dengan tali plastik, lalu aku kasihin ke Adri

“ini apa” tanya Adri heran

“Oh ya Adri aku lupa jelasin ke Elo, sebenarnya tas punya lo sudah ada di tempat yang semestinya” kataku

“Ah dimana?” Tanya Adri

” Di tong sampah dan Udah hangus!” kataku keras

Lalu aku tertawa kencang banget lalu Reno pun mengikutiku dengan tertawa kencang.

Saat itu wajah adri langsung merah masak, dan dia menjadi blingsatan dengan mengacak ngacak lemari, seperti ingin tidak percaya bahwa tasnya udah angus.

“Hey brader tas lu yang ngilangin resletingnya itu saya, bukan bara” bentak reno

“Sekarang saya tidak lagi mau mengurus kamu! di kasih bareng malah tidak bisa kompromi, menuduh orang semabarangan, Wees muleh muleh muleh, ra iso koe” tambah reno lagi

Lalu Adri mengambil Tas yang tadi di bawa Reno.

“Udah bawa sana…,” bentak reno

Lalu aku dan reno kembali tertawa keras, sedangkan Adri keluar entah mau kemana….

Karena sisa gaji kemaren masih sisa aku tawarin ke Reno

“nih bro” tawaranku

“Apaan sih lo, udah selow aja, itu tas yang dia bawa KW” Jawab reno sembari menelungkupkan badannya mungkin dia Lelah dan ingin tidur kali.

Pelit Oleh Hasbiallah….

Jika teman membaca cerpen pelit di atas di awali karena salah masuk atau nyasar, berikut ini Artikel Pelit.

Arti Kata Pelit, Sinonim dan Antonimnya

Pelit adalah Sikap seseorang yang sukar berbagi kebahagiaan dengan orang lain melalui sarana yang di milkinya [seseorang itu], dia lebih suka menikmati sarana yang dimiliki orang lain, lalu menyimpan miliknya, yang menurut pendapat dia, supaya awet.

Contoh Orang Pelit :

  • ketika nongkrong di warung kopi orang pelit sangat enggan mentraktir temennya, meskipun temne itu sering mentraktir dia.
  • Orang pelit enggan meminjamkan benda seperti gitar miliknya kepada teman yang sebenarnya dapat di percaya [ngak mungkin ngak di balikin]
  • Yang di punya orag lain akan lebih menarik di manfaatkan atau di gunakan orang pelit, meskipun dia memiliki benda/sesuatu yang sama dengan itu.
  • Salah satu contoh orang pelit sudah terdapat pada cerpen di atas.
  • DLL

Sinonim kata pelit

Sinonim atau persamaan kata pelit yang paling dekat [meyamai] adalah Kikir.

Kikir adalah sifat seseorang yang benar benar tidak suka melihat orang lain bahagia berkat sesuatu yang dia punya. kikir nilainya lebih tinggi dari pada pelit, biasanya orang yang Kikir, tidak mau membagkan sesuatu yang meskipun sama dia sendiri sudah tidak di pergunakan.

Perbedaan Kikir dan Pelit

  • Pelit lebih ke bahasa gaul anak jaman naw, sedangkan kikir bahasa EYD, Atau Ejaan yang Sudah di Sempurnakan
  • Kata pelit sering di gunakan dalam bercanda, sedangkan kikir selalu di gunakan untuk perkataan serius.
  • Dll

Persamaan Pelit dan Kikir

  • Sama sama di tujukan untuk sikap orang yang tidak mau rugi karena berbagi

Antonim kata Pelit

Antonim atau lawan kata pelit adalah Dermawan, dan Royal

Dermawan adalah : sikap orang yang punya kelebihan harta benda tapi tidak enggan membagikannya kepada orang yang berkekurangan, bahkan berbagi bisa menjadikan dia bahagia karenannya.

Royal Adalah : Sikap seseorang yang terlalu jorjoran dalam belanja, jajan, mentraktir temannya tanpa berfikir jauh kedepan, sehingga seringkali membuat cepat habis uangnya.

Fakta Orang Pelit

Dalam lingkungan sosial seperti di tongkrongan, bertetangga, dan di sekolah, kampus dll, pasti ada saja salah satu teman yang menonjol sikap pelitnya, sebagian dari orang pelit itu ada yang bertahan [tetap di pandang baik], dan sebagian lagi di cuekin atau di abaikan.

Berikut ini fakta fakta orang pelit

  • Orang pelit jarang yang memilki teman banyak, karena lingkungan sosial di indonsia tidak terlalu menyukai orang seperti ini.
  • Orang pelit tidak perduli kepada kata orang lain bahwa dia pelit, karena orang pelit lebih perduli kepada sesuatu yang bermanfaat yang bisa ia nikmati
  • Orang pelit tidak selalu cepat kaya
  • Orang pelit lebih sulit mendapat jalan ketika sangat butuh bantuan, di banding orang yang dermawan.
  • Orang pelit tidak termasuk ke kategori irit, karena pelit sama dengan sulit berbagi, sedangkan Irit meminimalkan pengeluaran.
  • DLL

Tips Terhindar dari sifat Pelit

Pelit tidak akan membuat kita menjadi kaya raya benget sekali, tapi efek negative dari pelit adalah, ke engganan orang lain ketika suatu saat kita butuh kedermawanan orang lain, sedangkan orang tidak mau memberi kita bantuan, baik secara tenaga, pikiran maupun benda, mungkin orang sudah enek sama kita.

Mungkin tips di bawah ini bisa membuat kita terhindar dari sifat Pelit

  • Rajin Ibadah Supaya fikiran jernih dan terhindar dari sifat pelit
  • Bersyukur atas Nikmat Allah
  • Percaya bahwa rezeki sudah ada yang atur
  • Jangan terlalu percaya bahwa kaya raya selalu mendatangkan bahagia
  • Percaya bahwa rezeki banyak bentuknya seperti sahabat, saudara, Ilmu pengetahuan dll, bukan hanya duit segepok
  • DLL

Cara Mengatasi Teman Pelit

Cara yang ini aku [hasbiallah] tidak terlalu mengerti, dan hanya apa yang aku pernah coba saja yang akan saya tulis.

  • Aku biasanya tidak terlalu akrab dengan orang pelit dan tidak juga terlalu menjauhinya, hanya biasa saja, mungkin ketika dia butuh aku takut ngak iklas membantunya, jadi aku bilang saja “aduh sori coy kebetulan lagi ngak ada” dan ini mungkin salah. tolong komen ya jika cara menghadapi orang pelit Versi aku ini salah
  • Jika aku lagi butuh bantuan, aku lebih memilih teman akrab dulu, yang sudah biasa saling berbagi denganku, seperti fajar, afik, deka, didin, agi gokmen, kribo dan 100+ lagi oh ya orang ini teman saya, kamu kenal ngak? hehee
  • Ketika orang pelit datang, maka minimalisir semua yang kira kira membuat dia nyaman, dan bilang oh sory ketika dia memminta sesuatu, hehe [malah aku yang pelit jadinya].
  • mendingan kita sudahi saja artikel ini, soalnya aku bingung gimana cara mengatasi orang pelit yang cara positif, tentu kamu yang lebih tahu, tolong di komen ya cara mengatasi orang pelit ini.

Dan inilah kisi kisi pelit dimana sebagai tambahan dari cerpen pelit dari temanku Umbara, sahabatku waktu bekerja jadi marketing di serpong. mudah mudahan bermanfat ya.

Pelit, Cepen dan Artikel Oleh Hasbiallah Bin Waizulkarni

" hasbi : Hasbiallah Bin Waizulkarni suka menulis pesan puitis yang seringkali tidak jelas di pesan cewe yang di sukainya. dulu! Kebiasaan itu di ubah menjadi menulis di kolom postingan website yang kamu baca sekarang ini. berupa puisi, Caption dan Juga cerpen!."