Teruntuk Blogger Senior | Cerpen Belantara iem

Diposting pada

Cerpen Teruntuk Blogger Senior ini adalah tentang Keresahanku yang beberapa Bulan Ini tidak menemukan Postingan Terbaru dari Beberapa Blogger Senior tempat Aku berguru.

Dan juga Ke irianku terhadap seorang tokoh yang sekarang konon di bilang Youtuber Legend. Namun bagiku Doi adalah Blogger Legend. tapi doi tidak lagi ngeblog. Makanya sekarang Aku menagis Tersedu-sedu di pojokan dalam Kamar hingga Akhirnya Kutulis Surat untuknya.

karena aku tidak Tahu alamatnya maka aku memilih untuk Memformatnya Menjadi Cerpen seperti dibawah ini.

Dear Blogger Senior

Kamu termasuk Orang yang Pernah Mencoba Untuk keluar dari Belukar Di Dalam  Hutan iem. Menuju Jalan Raya. dan Kamu Berhasil.

Lalu Kamu Naiki Sebuah Kendaraan Untuk Pergi Entah Ingin Kemana. Sehingga Kamu Bisa nikmati Pemandangan Dari balik Kaca.

Setelah Berapa Lama, Kamupun melihat Aku dari balik Kaca Itu sedang berdiri di pinggir jalan . Meski Sebentar saja Seiring Laju Kendaraanmu, Tapi kamu sudah melihatku yang Menatap Nanar Melihat Megah Kendaaran dari Bawah Sini. Dan Kamupun tersenyum Lalu Melambaikan Tangan.

Akupun Memaksa Tersenyum. Meski Hanya Beberapa Detik Saja, Lalu Aku merunduk Menatap Tanah. Kulihat Ada Berapa Batang Rumput Tumbuh disitu. yang bergoyang goyang Karena Terpaan Agin Kendaraanmu Yang melaju.

Bab 1 Siapa Penolongku..? Hanya Tuhan..!

Sebelum Sampai di Pinggir Jalan ini

Di Dalam Kamarku Ada Pintu Rahasia Yang terletak Di Kolong Tempat Tidur. Pintu itu tidak Besar hanya seukuran Laptop. suatu Ketika Pamanku Bilang..

“Hasbi..!  jangan Buka Pintu Kecil di bawah Kolong Tempat Tidurmu ya Ingat.!”

“Kenapa Paman” Aku mencoba Bertanya

“Hutan Iem.!” Lalu pamanku menatapku dengan Tajam Seolah ada makna yang tersimpan di balik tatapannya Itu.

“Hutan Iem Apa sih Paman” Tanyaku lagi

“Pamanku Hanya diam dan berlalu Pergi”

Karena Penasaran Maka pada suatu Ketika Aku masuk ke kolong tempat tidurku. dan Mencoba Untuk Membuka pintu rahasia. Lalu cahaya Menyeruak Menerangi Kolong ini. dan Aku menongolkan Kepalaku Melalui Pintu yang sebesar Layar Laptop.

Ternyata Pintu Rahasia ini langsung Menuju Hutan. Mungkin Ini yang di maksudkan Pamanku tentang Belantara Iem. Tanpa Pikir Panjang aku menyelonjorkan Seluruh tubuhku Melalui Pintu. Hingga seluruh tubuhku kini tidak lagi berada dalam Kamarku. Tapi sudah seutuhnya Di Belantara Iem.

Belantara Iem Mungkin sangat menakutan, Bisa saja Ada banyak Kejadian Tidak terduga di dalam sana, Tapi aku hanyalah manusia yang tidak Mengerti Cara bertahan Hidup dalam hutan Rimba.

Tapi Aku Nekad mencoba Peruntungan Sambil Meraba-Raba Rimba Iem. Aku sendiripun Tidak Tahu Cara melawan Ular Pyton Yang mungkin Sudah Menungguku di dalam Sana. dan Aku Beranikan Diri untuk menelusirinya.

Jengkal Demi Jengkal Telah Aku Lewati. Hingga Gelap Di malam, Dingin Di Hujan, Suara suara Makhluk Tuhan Yang terkadang Menakutkan. dan Kebingungan Yang Mungkin Bisa Menyesatkan.

Ternyata Ekspektasi Memang Seburuk yang Aku bayangkan. Oh Tuhan… Siapa Penolonguku Hanya Engkau….

Jika aku pulang Ke Kamarku. aku pun tidak tahu lagi dimana Letak Pintu Kecil di bawah Kolong tempat Tidurku.

Oh tuhan Berilah Kebahagiaan Kepada Pendahuluku. Karena Mereka Pernah sesulit Ini. Dulu di Rimba Iem.

Bab 2. Piton

Aku kebingungan Saat Melihat Akar Milik Pohon Besar Menjalar sendiri seperti makhluk Hidup yang Bernyawa. Mereka Bergerak Seperti Ular Piton lalu melilit mangsanya. dan Saat Ini mangsa Empuknya Adalah Kakiku.

“Lepaskan Aku Woiii Tolooong..” Aku berteriak Sambil Meronta supaya lepas dari jeratan Akar yang mengikat Kakiku, Ikatan akar itu malah semakin Kencang. Beberapa Kali Akar itu Menyeret Tubuhku. Sehingga Aku Kembali berteriak 

“Toloooong” Sebentar Aku mengambil Nafas. Tapi Akar yag mengikat Kakiku kembali Menyeret, Akar itu Tidak Perduli Saat Kepalaku Terbentur.

Ada Beberapa Akar Yang Bergerak Meliuk Liuk Menghampiri Leherku, Aku tangkap Ujungnya Lalu Aku Tarik Satu Persatu Sehingga Putus dari Penyangganya Di Atas Sana dari Cabang Pohon Besar Yang Tinggi Menjulang.

Bab 3 Daun Berdansa Dengan Ranting

Sebuah Batu besar Yang menancap Ke Badan Bumi. Tapi Di Himpit Oleh Pohon Besar yang Tumbang. Ku seret kakiku yang terikat. dan mencoba Melawan Tarikan sang Akar. Aku berusaha Bergerak Mendekati Batu besar itu. Aku Sudah Seperti Seekor Ikan yang terkena Pancing Nelayan.

Aku mencari Ujung akar yang sedang Melilit Kakiku. tapi tidak Kutemukan. Seperti Menyatu dengan Tubuh Akar. Sepertinya Dia Bisa Melebur. Untuk membuat Buhul Yang Mustahi Untuk Dilepas menggunakan Tangan.

Aku Terseok-seok Tapi sempat Berdiri. Namun Akar itu menghentak Kencang dan menarikku yang tadinya Berdiri Jadi terlentang dan Kepalaku Menghantap Permukaan Bumi.

Gelap Sudah semuanya Aku sudah Tidak Tahu lagi apa yang terjadi.

***

Ku buka mata Perlahan Lahan. Aku Merasa Seperti Bangun Tidur Di pagi Hari. Aku Masih berfikir Bahwa Aku sedang Terlentang Di Atas Kasur Empuk Dalam Kamar.

Yang sedikit Aneh Kasurku Terasa Tidak Se Empuk Biasanya, Dan selimutku seperti Kasar dan Kering Seperti Daun-daun Tua yang sudah tidak Layak Bergelantungan Di Ranting.

Semakin Lebar Mataku Terbuka Semakin Terlihat Pula Daun Daun Hijau yang bergoyang-goyang Di Tiup Angin. Mereka Berdansa Mesra berpelukan Dengan Ranting Diatas Sana.

Baru Aku mengerti Beberapa saat Yang Lalu, mungkin Satu jam atau mungkin Sudah dua Jam Bahkan Lebih aku Tertidur Disini. Lebih Tepatnya Pingsan.

Dan akar yang tadi melilit Kakiku sekarang Terlihat menjuntai Normal Dari Ranting Penyangganya Di Pohon Besar. Dan Aku sendiri Tidak Tahu Itu Pohon Apa.

kulihat Di permukaan tanah ada bekas tubuhku yang terseret sejajar dengan Posisi Kepalaku.

Aku Berdiri Secara Hati hati. sambil menatap Akar itu. Sedangkan dia kembali memanjang dan Bergerak Meliuk Liuk seperti Ular Piton Mengarah Ke Aku.

Aku Segera Berlari Kencang Menuju Batu Besar Yang tadi di Himpit Pohon Tumbang. Pohon Yang melintang tapi tidak sampai menyentuh Perukaan Tanah. Karena Tersangkut di Batu besar.

Aku Naiki Pohon Itu Secara Merangkak, tapi Akar itu semakin dekat meliuk liuk kearahku. Dan Aku mempercepat Gerakanku meski terkadang kakiku Meleset.

di Atas Permukaan Pohon Yang melintang aku sempat Tertegun Sebentar Menatap Jauh Kedepan Sana. Ternyata Seperti Ada Keramaian Yang samar-samar terlihat dari balik dedaunan.

Samar-samar Pula terdengar Deru Kendaraan. Dan terkadang Aku melihat Benda Putih Melaju. yang terlihat Di kejauhan di depan Sana.

Segera Aku melompat Sebelum Makhluk Jahat Berupa Akar Milik Pohon Besar Itu kembali Melilit Kakiku.

Aku berlari Kencang Tidak lagi Perduli akan Pijakan. Yang Ada di benakku adalah Kecepatan. Meskipun Aku mati Karena Kelelahan yang Jelas Aku sampai dulu di Jalan Raya Sana.

Bab 4 Kedai

Seteah Sampai di Jalan Raya ini, Sesaat setelah kamu tersenyum dan melambaikan Tangan

Kulihat Goyangan Rumput dibawah sana Mulai melambat, Hanya Oleh Angin bertiup yang pelan. Aku Sendiri masih Malu untuk Mendongak.

Cukuplah Pakaian Sobekku yang Kamu Lihat. cukuplah Goresan Luka di Jidadku yang Kakamu lihat, Atau tanah yang menempel di beberapa bagian Tubuhku. dan Aku Tidak Ingin Kamu melihat Raut Lelahku.

Sementara Kendaraanmu Semakin Menjauh Mungkin Kamu Sendiri tidak Bisa Lagi melihat Rupa Wajahku yang masih Tertunduk. Aku yakin Itu..

Makanya Aku Menengok sambil menunduk Ke arah Kendaraanmu. Yang hanya terlihat Bagian Belakangnya.

Ada Tulisan yang membuat Pilu hati Hatiku. Tapi Aku Melambaikan Tangan. Kearah Kendaraanmu. Lalu aku tersenyum Karena Mencoba Untuk Mengikhlaskan.

***

Aku berjalan Kaki saja di Jalan Raya pinggir Hutan ini. Sekitar satu jam Berjalan Kaki Aku melihat Papan Penunjuk Arah Menuju Jalan Setapak mengarah Ke Hutan. Bertuliskan Perkebunan WordPress. Tidak Jauh di depannya Ada Perkebunan Blogger.

Dan setelah memilih salah satu jalan setapak bertuliskan Petunjuk Itu maka aku menelusirinya. dan Aku menemukan Beberapa Perempatan Jalan Yang Bertuliskan “Kedai Hosting”.

Ada juga beberapa Papan Petunjuk Yang Aku baca. yang Aku ingat adalah “Kedai VPS 10 meter lagi” dan banyak lagi yang aku baca.

Aku berhenti di sebuah Kedai dan Memesan Segelas Domain Hangat. Dan Aku Menikmatinya sambil Mengenang Kamu Yang telah Pergi.

Tidak Ada rahasia darimu yang aku ingin Tahu. Sukseslah Kamu sebagaimana mimpimu dulu. Saat sulit di Belantara Iem. Hingga Berhasil Melewatinya. dan Aku sendiri Ingin Berkkebun di Sini.. Di Pinggir Hutan Iem.

TTD : Blogger Junior

Teruntuk Blogger Senior Oleh Hasbiallah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *