Teruntuk Bu Midah | Cerita Rindu

Diposting pada

Cerita Rindu ini berawal dari surat yang aku temukan dalam amplop di kontrakan yang baru aku huni, surat itu di tujukan kepada Bu Midah.

Kata tetangga sebelah penghuni kontrakan ini sebelum aku bernama Randi, dan dalam surat itu penulisnya memang bernama Randi, artinya surat itu tidak pernah sampai ke Bu Midah.

Akhirnya aku tulis kembali isi surat itu dalam Cerpen ini dengan harapan Salah satu Bu Midah yang ada di dunia membacanya, dan Bu Midah yang membaca itu mudah-mudahan Bu Midah yang ditujukan Oleh Surat itu.

Teruntuk Bu Midah

Perkenalkan, Aku adalah Rindu yang sedang bersemayam dalam Hati anak muda yang Ibu kenal.

Anak muda yang selalu datang dengan sikap Agak Bingung, Padahal untuk sekedar bertanya “Bu Apakah Dia sedang di rumah, Bolehkah Aku Bertemu”, Tapi kalimat itu tidak Terlontar darinya.

Aku adalah bentuk Rindu dari Anak Muda itu, kepada Gadis yang Ibu besarkan dengan Cinta, Gadis Lincah yang suka bercerita Tentang apa saja, Gadis yang juga pemalu tapi dia bisa sembunyikan sikap Pemalunya itu. Dan gadis yang menahan Tangisnya Jika dia ingin Menagis. Dan Dia Gadis yang Cantik.!

Aku adalah Sang Rindu untuk Rafanda Anak Ibu yang bersemayam dalam Hati Anak muda itu, dia Randi.

***

Ketika Itu Randi duduk di sebelah Rafanda yang sedang bekerja, Rafanda memakai baju lengan panjang dengan Motif Garis Belang, warna biru dan putih, dan memakai Kacamatanya.

Randi dia mengenakan Kameja dengan celana levis hitam dan Juga Topi berwarna silver yang dihadapkan kebelakang. Mereka nyaman sekali duduk berdampingan. Sesekali randi menundukkan keningnya ke lengan Rafanda lalu randi mengerakkan kepalanya kekiri dan kanan secara perlahan.

Maaf Jika ini harus kusampaikan kepada Ibu, Aku pastikan Saat itu Randi hanya mengekspresikan Kenyamanannya, dia tidak Akan Mau berbuat macam-macam pada Rafanda anak Ibu. Salahkan lah aku yang menyampaikan Ini Karena Aku Adalah Rasa Rindu yang Tidak akan bisa Bohong.

Saat itu Rafanda bekerja tapi Sambil bercerita kepada Randi tentang keluarganya, Yaitunya Tentang Ibu dan juga Ayah Rafanda, Randi mendengar dengan serius dan Sesekali dia tertawa mendengar Cerita yang di sampaikan Rafanda.

Lalu kebersamaan Mereka diLerai Bel pertanda Jam kerja sudah Usai, Dan Randi pulang Ke mes, sedangan Rafanda Pulang ke rumahnya, yaitunya Rumah Tempat Ibu membesarkan dia dengan Cinta.

Lalu Randi menunggu Pagi, Supaya cepat-cepat kembali Bertemu Rafanda, Tidak berharap Rafanda Libur, Karena jika tidak bersama Rafanda, maka saat itu menjadi Hari yang Panjang bagi Randi.

Kira kira pukul 7 malam, apakah Ibu melihat randi di sekitar rumah Ibu. sedang belanja di warung, atau hanya sekedar lewat di depan Rumah Ibu, maka saat itu Randi ingin sekali bertemu Ibu dan bertanya, “Bu Rafandanya ada”. Dan sudah tentu ibu tidak pernah mendengar kalimat itu. Karena Randi memang tidak berani Menyampaikannya.

Rembulan Atau ribuan bintang dilangit lalu Randi dan Rafanda di bumi Menyaksikan Kelokan Alam raya dikala malam itu. Keindahan yang belum pernah mereka dapati berdua. Ibu mungkin tahu itu. karena Randi tidak pernah mengajak Rafanada Jalan.

Rafanda menyenderkan kepalanya ke bahu Randi Menyaksikan mentari Mengukir Wajah Langit yang di selimuti Awan tipis Dengan warna jingga , Dan keindahan Itu belum juga mereka dapati berdua. Aku yakin Ibupun tahu itu karena Randi dan Rafanda tidak pernah berduan selain di tempat kerja

Kebersamaan mereka Hanya di dalam Gedung tanpa bias yang indah, hanya ada suara mesin Embos [mesin press logo]. Lalu suara-suara memuakkan dari mulut beberapa Orang yang suka berteriak menyalahi kerjaan orang lain.

Mungkin Ibu tertarik dengan kejadian ini..

suatu ketika saat Jam kerja…

“Bang randi sini bantuin. Aku gabisa Susah” Pinta Rafanda

“Apaan.. emang kamu jalanin apaan [bahan yang dikerjain apa]” Tanya randi.

“jalanin… jalaniin.. Kita Jalani Aja dulu” Kata rafanda.

Lalu Rafanda menatap randi dengan mata berbinar sambil tersenyum manis.

Sedangkan Randi dia tidak menangkap itu dengan Tindakan yang baik tapi malah Mengalihkan perhatian ke Hal lain, Randi seolah tidak mendengar Apapun Dari Rafanda.

Seharusnya randi menyodorkan Jari kelingkingnya, atau Menyampaikan Kalimat menyenangkan seperti, mengajak jadian atau semacamnya, bukannya malah pura -pura tidak tahu. Aku harus Bilang sama ibu Bahwa “Randi memang Payah”.

“Randi kamu ngapain sih di situ , Gak usah ngurusin Kerjaan dia [Rafanda]. Udah lanjutin aja kerjaan Kamu sendiri” Teriak Salah Satu Perempuan. dia tidak suka Jika ada yang mendekati Rafanda anak Ibu.

Tapi Ibu tenang Aja Randi dan Rafanda tidak apa apa kok. saat itu mereka malah sepeperti ini.

“dih.. tuh orang ngapain sih bang randi” kata rafanda setengah berbisik

“haha Biarin Aja banyak gaya dia mah,Mau naik pangat Kali” Jawab Randi sembari tertawa ringan.

“Bang Randi dia ngeliatin Terus” Rafanda memperingatkan sambil mengoyang-goyang lengan Randi.

Lalu randi menoleh ke perempuan yang tadi meneriaki mereka. perempuan itu masih menatap randi yang sedang memperbaiki kerjaan Rafanda.

“Lu ngapain sih, Urus aja kerjaan lu sendiri, ngurusin orang Lagi” Ucap randi ke perempuan itu.

Lalu perempuan yang namanya aku rahasiakan itu pergi sambil merungut, dan bicara sendiri entah apa yag dia bicarakan.

Sedangkan Randi dan Rafanda tertawa. meskipun tawa mereka tidak kencang, karena mereka sengaja pelankan supaya tidak ada yang mendengar.

***

Ibu aku ingin Sampaikan bahwa Rindu Tidak Mengerti apa itu Takut, Apa itu Malu, Gengsi.

Yang Rindu ketahui adalah Kasih sayang dan juga Cinta itu yang Mengajak Rindu untuk tiba. Kedalam hati siapapun Memilikinya.

Saat berjauhan dengan seorang yang di Cinta dan maka Rindu akan Tiba. Sering kali rindu itu Membawa Tangis Bahkan Pilu bersamanya.

yang pasti Rindu itu akan Jujur karena Rindu tidak mengenal Bohong. Dan aku adalah Rindu Itu, yang disampaikan Lewat jari Randi menjadi cerita, Tentang kebersamaan Randi dengan Anak Ibu yang disamarkan namanya menjadi Rafanda. Sebelumnya Maaf Ibu atas kalimatku Karena Aku adalah Rindu yang di Paksa Randi untuk menyampaikan, dan Sebenarnya Randi dipaksa pula Oleh Pilu.

Yang Akan aku sampaikan….

Seusai jam istirahat Rafanda tak kunjung masuk ke ruang Kerja, ada yang bilang Rafanda tadi di ajak oleh Hamid.

Oh ya hamid adalah orang yang memasukkan Randi bekerja di situ, dan dia bersama Rafanda sudah terlebih dulu bekerja di sana, dan Hamidpun terlebih dulu mendekati Rafanda di banding Randi.

Dan hamid dulunya teman satu kontrakannya Randi, dan Randi tahu bagaimana hamid ke Perempuan. Bagi randi Hamid adalah Teman, namun dari sudut pandang Randi Hamid bukanlah Pria yang baik Ke Perempuan.

Mungkin Ibu pernah melihat Hamid, atau mungkin dia pernah Kerumah ibu menanyakan Rafanda.

Waktu itu sudah setengah Jam bekerja setelah Istirahat, maka barulah hamid datang dengan senyumnya Lalu di iringi oleh Rafanda di belakangnya.

“dari mana lu hamid” tanya kak Tina [kak tina=super visor]

“Sori kak tadi aku dari kontrakan, soalnya hujan gede, nunggu Hujan reda dulu” kata hamid terbata-bata

kak tina tidak bertanya lagi dia berlalu sambil melirik rafanda, tapi tidak bertanya ke rafanda.

Sedangkan rafanda langsung menuju ketempat posisinya bekerja, dia melirik randi dengan tatapan Lirih.

Randi sempat membalas tatapan Rafanda namun Randi Berusaha Cuek randi hanya berfikir tentang Kontrakan Pojok, dimana dulu ia ngontrak bareng bersama Hamid dan juga simamora. di Kontrakan Pojok itulah Hamid sering bawa-bawa cewe beraneka Rupa.

Dan dulunya randi tidak perduli karena itu adalah urusan pribadi hamid, tapi sekarang Hamid membawa Rafanda ke kontrakan itu dalam keadaan Cuaca Hujan.

Randi tidak mau membayangkan apa yang hamid dan rafanda lakukan di dalam kontrakan pojok itu, Randi takut dia bakalan sakit hati, atau malah Kasihan atau malah jatuh cinta sama Rafanda terlalu dalam lagi. sedangkan Menurut Randi Rafanda Bekasnya Hamid. maaf aku harus sampaikan Ini kepada Ibu. tapi itulah kenyataanya dari sudut pandang Randi.

Kita sebenarnya tidak tahu Hamid dan Rafanda entah benar ke kontrakan Pojok atau hanya alasan Hamid saja kepada Kak Tina.

Mulai saat itu Randi tidak Respeck lagi ke Rafanda, sering kali rafanda mencoba menarik perhatian randi namun randi Cuek, Tidak perduli. Jika randi menanggapi Rafanda nantinya Randi jatuh cinta semakin dalam, sedangkan Randi tidak mau dengan Cewe yang pernah di angkut Hamid Ke kontrakan Pojok.

***

Kepada ibu midah yang Baik kepada Randi, Aku Sebagai Rindu yang bersemayam di hatinya Randi sangat tahu. bahwa Randi memang tidak bisa melupakan Rafanda Anak ibu.

Kadang-kadang randi lupa akan kejadian hamid yang membawa Rafanda Ke kontrakan Pojok. dan saat Lupa itulah rasa cintanya bertambah, Rasa sayangnya bertamabah. dan Aku [sang Rindu] pun bertambah untuk Rafanda, semakin dalam semakin dalam dan semakin dalam, di Hatinya Randi

Dan Saat Randi mengingat Kembali perihal Hamid dan Rafanda di Kontrakan pojok, Maka rasa cinta dan sayang randi berubah jadi Pilu, Benci dan Marah. dia benci dan marah Kenapa harus cinta sama Rafanda.

Dan yang bisa di lakukan Randi hanyalah Cuek dan tidak perduli supaya dia tidak terus menerus mengingat Rafanda anak ibu. Maaf Ibu ini Harus Aku sampaikan. Aku hanya mengingatkan Bahwa Aku hanyalah Rindu yang di paksa bercerita, dan Aku tidak bisa berbohong.

Sekitar tiga bulan Randi tidak pernah lagi memdekati rafanda, Randi hanya menegur biasa, dan memposisikan rafanda sebagai cewe yang biasa saja. bukan cewe spesial di kehidupan nyata, yang sesungguhnya Rafanda adalah Cewe yang selalu ada dalam Hati Randi.

Rafanda Memang spesial bagi Randi Tapi Randi dikalahkan Egonya Sendiri. dia kalah oleh pikirannya yang selalu mengarah ke kontrakan Pojok dan memikirkan yang di lakukan Hamid dan rafanda di dalam kontraan Itu, Sebenarnya dia tidak tahu yang sebenarnya terjadi antara Hamid dan Rafanda. Mungkin ibu yang akan tahu jika menanyakan perihal Ini ke rafanda Anak Ibu.

Jauh dari dalam Hati Randi merindukan tawa rafanda, candanya, dan semua tingkah laku Rafanda. tapi Randi memang dikalahkan Oleh Egonya. dan tidak mau punya Hubungan Serius dengan Cewe bekas Hamid.

Rindu itu ia simpan dalam Hatinya, ia hanya bisa melihat wajah Rafanda, tapi tidak Mau mendengar Cerita dari Rafanda. tidak ingin lagi ndusel-ndusel di lengan Rafanda Anak Ibu.

Dan dia berjuang melupakan Anak Ibu hanya karena kalimat “Tadi dari kontrakan Soalnya Hujan Gede”.

Sekarang Randi sudah pergi dari pabrik tempat ia berkerja yang tidak jauh dari rumah Ibu.

dan dia masih merindukan Rafanda, bedanya kali ini Randi tidak bisa lagi melihat wajah Rafanda. apa lagi untuk melihat tawanya candanya, maupun mendengar Ceritanya.

Maaf Bu midah, Cerita ini aku akhiri, karena sekarang Rindu untuk Rafanda anak ibu sudah Pergi mungkin sebentar tapi Rindu Untuk Rafanda Pasti Kembali Lagi, Secara Ganas atau biasa saja

dan Kata penutup ini Murni keluar Dari Kepala Randi, Bukan Lagi dari kalimat yang mengandalkan Rindu.

Maaf Ibu midah. jika kalimat Tuduhan atau kalimat tidak enak Lainnya Yang Randi sampaikan. Tapi itu adalah kalimat yang sejujurnya yang keluar dalam Hati Randi, menurut sudut pandang randi sendiri. tapi tidak berdasarkan Riset, hanya menerka-nerka Saja dengan Ego Karena menulis mengandalkan Rindu.

Jika Rindu untuk Rafanda kembali, maka Randi akan Menulis Surat lagi. Randi berharap Rindu itu tidak kembali karena Menahannya cukup Melelahkan. Mungkin Ibu juga muak dengan surat Ini.

Teruntuk Bu Midah Oleh Hasbiallah Bin Waizulkarni

Status : Belum Revisi

Kategori : Cerita Rindu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *